Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Indonesia (BI) menegaskan akan mengerahkan seluruh instrumen moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan global.
Wakil Gubernur Senior Destry Damayanti mengatakan, langkah tersebut akan dilakukan secara terukur, berkelanjutan, dan tepat waktu guna meredam gejolak di pasar keuangan.
“Bank sentral akan menggunakan seluruh instrumen moneter secara terukur, kontinu, dan tepat waktu untuk menjaga rupiah,” ujarnya dilansir dari Reuters, Senin (13/4/2026).
Baca Juga: Restitusi Pajak Sentuh Rp 300 Triliun, Menkeu Purbaya Soroti Potensi Kebocoran
Di tengah upaya tersebut, BI memastikan pertumbuhan uang primer (base money) tetap dijaga di atas 10%, meskipun intervensi pasar terus dilakukan.
Sebagai informasi, hingga perdagangan siang, rupiah pasar spot berada di level Rp 17.118 per dolar AS, melemah 0,08% dibandingkan penutupan Jumat (10/4) di Rp 17.104 per dolar AS.
Pergerakan rupiah ini sejalan dengan pelemahan mayoritas mata uang Asia terhadap dolar AS.
Hingga pukul 12.00 WIB, baht Thailand mencatat pelemahan terdalam di kawasan setelah turun 0,68%, diikuti rupee India yang melemah 0,66%. Selanjutnya, peso Filipina turun 0,64% dan won Korea Selatan terkoreksi 0,34%.
Baca Juga: BI Ungkap Tiga Dampak Konflik Iran-AS-Israel, dari Finansial hingga Komoditas
Mata uang lainnya seperti yen Jepang melemah 0,29%, ringgit Malaysia turun 0,27%, serta dolar Singapura tergelincir 0,19%. Sementara itu, yuan China terkoreksi tipis 0,05% dan dolar Hong Kong melemah 0,03%.
Adapun dolar Taiwan menjadi satu-satunya mata uang di Asia yang menguat, yakni naik 0,07% terhadap dolar AS.
Di sisi lain, BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 tetap solid di kisaran 5,2%, mencerminkan ketahanan ekonomi domestik di tengah tekanan eksternal.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













