Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Indonesia (BI) masih menahan BI rate di level 5,75% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Agustus 2026. Kondisi rupiah dan inflasi yang mulai mereda menurutnya menjadi alasan BI belum perlu menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.
"Kalau kita lihat proyeksi kita di bulan Agustus itu akan stay di 5,75%. Alasannya yang pertama tentu terkait dengan nilai tukar rupiah," ujar Kepala Ekonom Maybank Indonesia Juniman memproyeksikan kepada Kontan, Senin (17/8/2026).
Menurutnya, rupiah dalam beberapa pekan terakhir relatif stabil dan cenderung menguat. Pergerakan tersebut didukung pelemahan indeks dolar AS dan meredanya tekanan inflasi di AS.
Baca Juga: Ekonom Bank Permata Sebut BI Sebaiknya Tetap Tahan BI Rate di 5,75% di RDG Agustus
Inflasi AS tercatat 3,4%, turun dari 3,5%. Kondisi tersebut membuat ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed bergeser dari sebelumnya diperkirakan terjadi bulan depan menjadi Desember 2026.
"Yang awalnya diproyeksikan bulan depan, sekarang market punya ekspektasi baru, ada kenaikan di Desember. Dengan kondisi seperti itu, tidak ada alasan untuk menaikkan suku bunga lagi dalam waktu dekat," kata Juniman.
Dari sisi domestik, tekanan inflasi dinilai juga semakin terkendali. Inflasi nasional turun menjadi 2,88% pada Juli 2026 dari 3,34% pada bulan sebelumnya.
"Dengan kondisi ini, apalagi dengan inflasi juga, kelihatannya tekanannya juga tidak besar lagi, dimana kita lihat inflasi secara nasional turun 2,88% dari 3,34% di bulan sebelumnya," ujarnya.
Dengan kondisi tersebut, Juniman memperkirakan BI masih akan menahan BI Rate hingga November. BI baru akan kembali mempertimbangkan kebijakan suku bunga pada Desember dengan melihat perkembangan ekonomi dan langkah The Fed.
"Saya berpikir sampai bulan November, baru Desember BI akan melihat data yang ada, melihat daripada langkah policy daripada Fed," jelasnya.
Baca Juga: Iuran BPJS Kesehatan 2027 Tak Naik, Pemerintah Siap Suntik Dana Jika Defisit
Jika The Fed kembali menaikkan suku bunga pada akhir tahun, BI berpotensi mengikuti langkah tersebut. "Kalau Fed melakukan kenaikan, BI bisa follow kenaikannya Desember. Jadi ada potensi kenaikan lagi, seiring dengan kenaikan bunga Fed di akhir tahun 2026," katanya.
Untuk nilai tukar, Juniman memperkirakan rupiah belum akan mengalami penguatan maupun pelemahan yang signifikan. Rupiah diperkirakan bergerak sideways pada kisaran Rp 17.700-Rp 18.000 per dolar AS sepanjang kuartal III 2026. "Di kuartal ketiga masih berada di sekitar Rp 17.700 sampai Rp 18.000," ujar Juniman.
Menurutnya, pola pergerakan yang relatif sama juga masih berpotensi berlanjut hingga kuartal IV 2026.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
