kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.677.000   2.000   0,07%
  • USD/IDR 17.825   -17,00   -0,10%
  • IDX 6.402   100,12   1,59%
  • KOMPAS100 829   5,89   0,72%
  • LQ45 632   5,12   0,82%
  • ISSI 223   5,51   2,54%
  • IDX30 354   2,79   0,80%
  • IDXHIDIV20 430   2,74   0,64%
  • IDX80 95   0,68   0,73%
  • IDXV30 119   1,18   1,00%
  • IDXQ30 112   0,79   0,71%

BI Rate 5,75% Diprediksi Bertahan hingga November, Ekonom Ungkap Kapan Bunga Naik


Senin, 17 Agustus 2026 / 18:33 WIB
BI Rate 5,75% Diprediksi Bertahan hingga November, Ekonom Ungkap Kapan Bunga Naik
ILUSTRASI. Logo Bank Indonesia (BI) di gedung BI, Jakarta (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Indonesia (BI) masih menahan BI rate di level 5,75% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Agustus 2026. Kondisi rupiah dan inflasi yang mulai mereda menurutnya menjadi alasan BI belum perlu menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.

"Kalau kita lihat proyeksi kita di bulan Agustus itu akan stay di 5,75%. Alasannya yang pertama tentu terkait dengan nilai tukar rupiah," ujar  Kepala Ekonom Maybank Indonesia Juniman memproyeksikan kepada Kontan, Senin (17/8/2026).

Menurutnya, rupiah dalam beberapa pekan terakhir relatif stabil dan cenderung menguat. Pergerakan tersebut didukung pelemahan indeks dolar AS dan meredanya tekanan inflasi di AS.

Baca Juga: Ekonom Bank Permata Sebut BI Sebaiknya Tetap Tahan BI Rate di 5,75% di RDG Agustus

Inflasi AS tercatat 3,4%, turun dari 3,5%. Kondisi tersebut membuat ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed bergeser dari sebelumnya diperkirakan terjadi bulan depan menjadi Desember 2026.

"Yang awalnya diproyeksikan bulan depan, sekarang market punya ekspektasi baru, ada kenaikan di Desember. Dengan kondisi seperti itu, tidak ada alasan untuk menaikkan suku bunga lagi dalam waktu dekat," kata Juniman.

Dari sisi domestik, tekanan inflasi dinilai juga semakin terkendali. Inflasi nasional turun menjadi 2,88% pada Juli 2026 dari 3,34% pada bulan sebelumnya.

"Dengan kondisi ini, apalagi dengan inflasi juga, kelihatannya tekanannya juga tidak besar lagi, dimana kita lihat inflasi secara nasional turun 2,88% dari 3,34% di bulan sebelumnya," ujarnya.

Dengan kondisi tersebut, Juniman memperkirakan BI masih akan menahan BI Rate hingga November. BI baru akan kembali mempertimbangkan kebijakan suku bunga pada Desember dengan melihat perkembangan ekonomi dan langkah The Fed.

"Saya berpikir sampai bulan November, baru Desember BI akan melihat data yang ada, melihat daripada langkah policy daripada Fed," jelasnya.

Baca Juga: Iuran BPJS Kesehatan 2027 Tak Naik, Pemerintah Siap Suntik Dana Jika Defisit

Jika The Fed kembali menaikkan suku bunga pada akhir tahun, BI berpotensi mengikuti langkah tersebut. "Kalau Fed melakukan kenaikan, BI bisa follow kenaikannya Desember. Jadi ada potensi kenaikan lagi, seiring dengan kenaikan bunga Fed di akhir tahun 2026," katanya.

Untuk nilai tukar, Juniman memperkirakan rupiah belum akan mengalami penguatan maupun pelemahan yang signifikan. Rupiah diperkirakan bergerak sideways pada kisaran Rp 17.700-Rp 18.000 per dolar AS sepanjang kuartal III 2026. "Di kuartal ketiga masih berada di sekitar Rp 17.700 sampai Rp 18.000," ujar Juniman.

Menurutnya, pola pergerakan yang relatif sama juga masih berpotensi berlanjut hingga kuartal IV 2026.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×