kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.677.000   2.000   0,07%
  • USD/IDR 17.825   -17,00   -0,10%
  • IDX 6.402   100,12   1,59%
  • KOMPAS100 829   5,89   0,72%
  • LQ45 632   5,12   0,82%
  • ISSI 223   5,51   2,54%
  • IDX30 354   2,79   0,80%
  • IDXHIDIV20 430   2,74   0,64%
  • IDX80 95   0,68   0,73%
  • IDXV30 119   1,18   1,00%
  • IDXQ30 112   0,79   0,71%

Ekonom Bank Permata Sebut BI Sebaiknya Tetap Tahan BI Rate di 5,75% di RDG Agustus


Senin, 17 Agustus 2026 / 18:29 WIB
Ekonom Bank Permata Sebut BI Sebaiknya Tetap Tahan BI Rate di 5,75% di RDG Agustus
ILUSTRASI. ilustrasi Suku Bunga, Jakart (KONTAN/Panji Indra)


Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Kepala Ekonom PermataBank Josua Pardede memprediksi Bank Indonesia (BI) akan mempertahankan BI Rate di level 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Agustus pada Rabu mendatang (19/8).

Menurutnya, ada tiga alasan utama yang membuat BI belum perlu menaikkan suku bunga. Pertama, inflasi domestik masih terkendali.

Inflasi Juli 2026 tercatat 2,88% secara tahunan (year on year/yoy), dengan deflasi 0,14% secara bulanan (month to month/mtm). Sementara inflasi inti berada di 2,76% yoy.

"Dengan BI Rate 5,75%, selisih terhadap inflasi aktual secara sederhana hampir 2,9 percentage point, sehingga posisi kebijakan moneter sudah cukup ketat," ujar Josua kepada Kontan, Senin (17/8/2026).

Baca Juga: Iuran BPJS Kesehatan 2027 Tak Naik, Pemerintah Siap Suntik Dana Jika Defisit

Kedua, BI telah menaikkan suku bunga secara kumulatif 100 basis poin pada Mei-Juni dan pada Juli menyatakan pengetatan tersebut untuk sementara cukup untuk menjaga rupiah dan ekspektasi inflasi.

Ketiga, tekanan dari Amerika Serikat mulai mereda. Inflasi konsumen inti AS Juli melambat menjadi 2,5%, sementara probabilitas pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed pada September turun menjadi sekitar 30% dari 50% sepekan sebelumnya.

Meski demikian, Josua menilai BI belum dapat menyatakan siklus kenaikan suku bunga telah selesai. Pasalnya, tekanan rupiah saat ini tidak hanya berasal dari perbedaan suku bunga Indonesia dan AS, tetapi juga dari kondisi neraca pembayaran.

Josua memperkirakan defisit transaksi berjalan melebar menjadi sekitar 3,09% terhadap PDB pada kuartal II dan 3,03% pada kuartal III. Untuk sepanjang 2026, defisit transaksi berjalan diperkirakan sekitar 2,46% terhadap PDB.

"Pertimbangan BI pada RDG kali ini menurut saya akan lebih berat pada stabilitas eksternal daripada inflasi domestik," katanya.

Selain transaksi berjalan, BI juga perlu mencermati harga minyak, konflik Timur Tengah, arus modal asing, serta cadangan devisa. Cadangan devisa Juli turun menjadi US$ 145,3 miliar dari US$ 145,6 miliar pada Juni, meski masih setara sekitar 5,5 bulan impor.

BI Diminta Tak Hanya Andalkan Suku Bunga

Baca Juga: Biaya Berutang Pemerintah 2027 Diproyeksi Masih Mahal, Ini Penyebabnya

Josua menilai BI sebaiknya mengandalkan bauran kebijakan untuk menjaga rupiah, bukan menaikkan BI Rate. Intervensi pasar, menjaga daya tarik SRBI, memperkuat instrumen lindung nilai, serta meningkatkan pasokan devisa perlu dilakukan secara bersamaan.

Menurutnya, menaikkan BI Rate hanya untuk menarik dana jangka pendek bukan solusi ideal karena dapat meningkatkan biaya dana perbankan dan menghambat kredit serta investasi.

"Penguatan rupiah harus dilakukan dari sisi pasokan devisa, bukan hanya dari sisi permintaan terhadap rupiah," ujarnya.

Untuk nilai tukar, Josua memperkirakan rupiah rata-rata berada di sekitar Rp 18.276 per dolar AS pada kuartal III dan membaik ke sekitar Rp 17.906 per dolar AS pada akhir 2026. Namun, risiko pelemahan masih perlu diwaspadai. Level Rp 18.200 menjadi batas kewaspadaan pertama, sedangkan Rp 18.300 menjadi batas yang lebih penting.

Jika rupiah menembus Rp 18.300 secara menetap disertai arus modal keluar dan penurunan cadangan devisa, Josua menilai BI perlu memperkuat responsnya.

"BI sebaiknya menahan BI Rate di 5,75%, mempertahankan sikap tegas terhadap stabilitas rupiah, tetapi menggunakan kenaikan suku bunga hanya sebagai pertahanan terakhir," pungkasnya.

Dalam kondisi saat ini, Josua menilai kualitas intervensi, pasokan devisa, arus modal, dan kredibilitas kebijakan akan lebih menentukan rupiah daripada tambahan kenaikan BI Rate.

Baca Juga: Subsidi BBM Tahun 2027 Turun, Ini Penjelasan Menkeu Purbaya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×