kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.856.000   -100.000   -3,38%
  • USD/IDR 16.909   54,00   0,32%
  • IDX 7.951   -153,02   -1,89%
  • KOMPAS100 1.119   -21,60   -1,89%
  • LQ45 816   -13,06   -1,57%
  • ISSI 279   -5,90   -2,07%
  • IDX30 427   -5,51   -1,27%
  • IDXHIDIV20 515   -5,94   -1,14%
  • IDX80 125   -2,08   -1,64%
  • IDXV30 139   -2,45   -1,73%
  • IDXQ30 139   -1,17   -0,83%

BI: Perubahan Outlook Moody’s Karena Risiko Kebijakan, Bukan Pelemahan Ekonomi


Jumat, 06 Februari 2026 / 09:30 WIB
BI: Perubahan Outlook Moody’s Karena Risiko Kebijakan, Bukan Pelemahan Ekonomi
ILUSTRASI. Gubernur BI Perry Warjiyo tegaskan fundamental ekonomi solid meski Moody's pangkas outlook. ( ANTARA FOTO/ADITYA PRADANA PUTRA)


Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menegaskan penyesuaian outlook peringkat utang Indonesia oleh lembaga pemeringkat Moody’s menjadi negatif tidak mencerminkan pelemahan fundamental perekonomian nasional. Menurutnya, kinerja ekonomi domestik tetap solid meskipun ketidakpastian global masih tinggi.

Seperti diketahui, Moody’s mempertahankan sovereign credit rating Republik Indonesia pada level investment grade Baa2, namun menurunkan outlook menjadi negatif pada 5 Februari 2026.

Dalam laporannya, Moody’s menyatakan afirmasi rating tersebut mencerminkan ketahanan ekonomi Indonesia yang tetap kuat, didukung pertumbuhan yang stabil serta kekuatan struktural seperti sumber daya alam dan demografi yang menguntungkan.

Baca Juga: Pemerintah Siapkan Sejumlah Strategi untuk Dorong Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2026

Menanggapi keputusan tersebut, Perry menilai perubahan outlook lebih dipengaruhi oleh pandangan terhadap risiko penurunan kepastian kebijakan, bukan karena melemahnya kondisi ekonomi domestik.

“Penyesuaian outlook diyakini tidak mencerminkan pelemahan fundamental perekonomian Indonesia. Di tengah tingginya gejolak dan ketidakpastian global, kinerja ekonomi domestik tetap solid,” ujar Perry dalam siaran pers, Kamis (5/2/2026).

Ia menjelaskan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan IV 2025 tercatat sebesar 5,39%, sehingga secara keseluruhan tahun 2025 tumbuh 5,1%. Inflasi juga tetap terjaga pada level 2,92% dan berada dalam kisaran sasaran Bank Indonesia. Selain itu, stabilitas nilai tukar rupiah terus diperkuat melalui komitmen kebijakan moneter yang konsisten.

Perry menambahkan stabilitas sistem keuangan nasional tetap kuat, didukung likuiditas yang memadai, permodalan perbankan yang berada pada level tinggi, serta risiko kredit yang rendah. Digitalisasi sistem pembayaran yang terus berkembang, ditopang infrastruktur yang stabil dan struktur industri yang sehat, juga menjadi faktor pendukung pertumbuhan ekonomi.

Baca Juga: Outlook Kredit Dipangkas, Airlangga: Moody's Gak Paham Danantara & Program Pemerintah

Moody’s memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap berada di kisaran 5% dalam jangka pendek hingga menengah, dengan defisit fiskal diperkirakan tetap di bawah 3% terhadap produk domestik bruto (PDB) dan rasio utang pemerintah yang tetap rendah dibandingkan negara sekelas.

Namun, Moody’s menilai Indonesia masih menghadapi tantangan dalam memperkuat basis penerimaan negara untuk menjaga keberlanjutan pertumbuhan sekaligus stabilitas makroekonomi. Lembaga tersebut juga mengapresiasi upaya pemerintah meningkatkan efisiensi administrasi perpajakan dan kepabeanan.

Ke depan, Bank Indonesia memperkirakan prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap solid dengan tren meningkat, didukung inflasi yang terkendali. Pertumbuhan ekonomi tahun 2026 diproyeksikan berada di kisaran 4,9%-5,7%, sementara pada 2027 diperkirakan meningkat menjadi 5,1%-5,9%.

Ketahanan eksternal ekonomi Indonesia juga dinilai tetap kuat. Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) terjaga sehat dengan surplus neraca perdagangan Desember 2025 sebesar US$ 2,51 miliar. Posisi cadangan devisa mencapai US$ 156,5 miliar, setara pembiayaan 6,4 bulan impor, jauh di atas standar kecukupan internasional.

Bank Indonesia menegaskan akan terus memperkuat bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan serta mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan di tengah ketidakpastian global, melalui sinergi erat dengan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) dan pemerintah guna menjaga kepercayaan pasar.

Selanjutnya: BPJS PBI Dinonaktifkan, Pasien Cuci Darah Terdampak, Ini Janji Pemerintah

Menarik Dibaca: Diskon 50% CFC Hebat, Promo Paket Ayam Favorit Mulai Rp 26 Ribuan Saja

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×