kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.135.000   50.000   1,62%
  • USD/IDR 16.894   85,00   0,51%
  • IDX 8.017   -218,65   -2,65%
  • KOMPAS100 1.125   -31,30   -2,71%
  • LQ45 812   -21,87   -2,62%
  • ISSI 286   -6,72   -2,30%
  • IDX30 429   -10,83   -2,46%
  • IDXHIDIV20 517   -9,75   -1,85%
  • IDX80 126   -2,90   -2,25%
  • IDXV30 141   -2,38   -1,66%
  • IDXQ30 138   -3,69   -2,61%

BI Janji Jaga Inflasi dan Sistem Keuangan Jelang Lebaran dan Ketidakpastian Global


Senin, 02 Maret 2026 / 16:35 WIB
BI Janji Jaga Inflasi dan Sistem Keuangan Jelang Lebaran dan Ketidakpastian Global


Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Bank Indonesia (BI) menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas inflasi nasional dan sistem keuangan menjelang momentum Ramadan dan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul Fitri tahun ini.

Upaya tersebut juga dilakukan di tengah meningkatnya ketidakpastian global, termasuk memanasnya tensi geopolitik antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat (AS) yang berpotensi memengaruhi perekonomian dunia.

Deputi Gubernur BI Aida S. Budiman mengatakan bank sentral akan terus bersinergi dengan pemerintah dan berbagai pemangku kebijakan untuk menjaga stabilitas harga serta sistem keuangan domestik guna mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan berdaya tahan.

Baca Juga: Mendag: Dampak Perang AS Israel-Iran Terjadi di Semua Negara, Bukan Hanya RI

“Komitmen Bank Indonesia tetap menjaga stabilitas. Kami terus berada di pasar untuk memastikan stabilitas nilai tukar terjaga, termasuk juga memastikan inflasi tetap terkendali,” ujar Aida dalam acara Kontan Share & Learn dan Bank Indonesia di Jakarta Pusat, Senin (2/3/2026).

Menurut Aida, terdapat tiga jalur utama yang menjadi perhatian BI dalam menjaga stabilitas harga dan sistem keuangan. Pertama adalah jalur harga komoditas global. BI memantau perkembangan harga komoditas strategis seperti minyak dan emas, termasuk dampaknya terhadap harga pangan domestik.

“Sekarang kami sudah mulai melihat bagaimana perkembangan harga minyak dan emas. Nanti juga penting melihat harga pangan, karena kalau harga minyak meningkat tentu akan berdampak pada biaya transportasi dan lain-lain,” jelasnya.

Kedua adalah jalur pasar keuangan, khususnya pergerakan nilai tukar rupiah yang sangat dipengaruhi dinamika pasar global. Ketiga adalah jalur volume perdagangan yang berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi dan inflasi.

“Bank Indonesia akan terus melakukan monitoring terhadap indikator-indikator terkini melalui tiga channel tersebut,” kata Aida.

Ia menambahkan, kondisi ekonomi global saat ini masih berada dalam fase dinamis dan penuh ketidakpastian. Selain tren perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia, pasar juga dihadapkan pada ketidakpastian kebijakan suku bunga global serta memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah.

Baca Juga: Stimulus Fiskal dan Konsumsi Dorong PMI Manufaktur ke Zona Ekspansi Kuat

“Kalau kami melihat pertumbuhan ekonomi global, keyword-nya adalah dinamis dan penuh ketidakpastian,” ujarnya.

Di sisi lain, prospek ekonomi domestik pada 2026 dinilai tetap terjaga. BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada pada kisaran 4,9% hingga 5,7%, dengan inflasi tetap berada dalam target 2,5% plus minus 1%.

Aida menjelaskan, momentum pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama 2026 diperkirakan akan didorong oleh meningkatnya konsumsi masyarakat selama periode HBKN serta belanja pemerintah.

“Pada kuartal pertama ini ada banyak HBKN yang mendorong masyarakat melakukan spending. Selain itu, pemerintah juga akan meningkatkan belanja untuk memastikan berbagai program berjalan dengan baik,” jelasnya.

Peningkatan konsumsi pemerintah dan swasta tersebut diharapkan mampu menjaga permintaan domestik di tengah ketidakpastian global.

“Di tengah kondisi global yang dinamis dan penuh ketidakpastian, kami kembali pada modal utama yaitu menjaga permintaan domestik,” katanya.

BI juga memperkirakan defisit transaksi berjalan tetap terkendali pada kisaran minus 0,1% hingga 0,9% terhadap produk domestik bruto (PDB).

Sementara itu, pertumbuhan kredit diproyeksikan berada di kisaran 8% hingga 12% pada tahun ini.

“Komitmen Bank Indonesia tetap menjaga stabilitas. Itu saya garis bawahi dan kami terus berada di pasar untuk memastikan stabilitas nilai tukar terjaga, termasuk juga inflasi. Dan nanti pada saatnya kami akan merespons kebijakan yang lebih utuh lagi pada saat RDG (Rapat Dewan Gubernur) bulanan,” ujar Aida.

Baca Juga: Pemerintah RI Antisipasi Gangguan Pasokan Minyak akibat Konflik Iran dengan Israel-AS

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Procurement Strategies for Competitive Advantage (PSCA) AI untuk Digital Marketing: Tools, Workflow, dan Strategi di 2026

[X]
×