kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.554.000   -10.000   -0,39%
  • USD/IDR 18.060   58,00   0,32%
  • IDX 5.328   49,47   0,94%
  • KOMPAS100 686   6,42   0,94%
  • LQ45 536   5,41   1,02%
  • ISSI 181   1,90   1,06%
  • IDX30 301   3,09   1,04%
  • IDXHIDIV20 393   4,01   1,03%
  • IDX80 79   0,89   1,14%
  • IDXV30 109   1,50   1,39%
  • IDXQ30 99   1,11   1,13%

Berikut Risiko yang Berpotensi Melecut Inflasi Indonesia ke Depan


Senin, 02 Oktober 2023 / 21:44 WIB
ILUSTRASI. Inflasi masih berada di kisaran sasaran Bank Indonesia (BI) yang sebesar 2% YoY hingga 4% YoY.


Reporter: Bidara Pink | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Inflasi Indonesia pada September 2023 tercatat 2,28% YoY. Dengan demikian, berarti inflasi masih berada di kisaran sasaran Bank Indonesia (BI) yang sebesar 2% YoY hingga 4% YoY. 

Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro mengungkapkan, dia tetap yakin bahwa inflasi Indonesia akan berada di kisaran sasaran BI tersebut. Atau dari perhitungannya, inflasi Indonesia akan berada di kisaran 3% YoY pada akhir tahun ini. 

"Namun, perlu waspada ada kemungkinan kenaikan harga pangan dan energi," ujar Andry kepada Kontan.co.id, Senin (2/10). 

Andry pun memerinci risiko-risiko tersebut. Pertama, adanya fenomena kekeringan panjang atau El-Nino yang mungkin terjadi hingga paruh pertama tahun 2024. 

El-Nino menimbulkan risiko berupa terganggunya hasil panen pangan dalam negeri, termasuk beras. 

Baca Juga: Hati-Hati! Sejumlah Risiko Ini Membayangi Prospek Inflasi Indonesia

Kedua, rencana pengurangan pasokan oleh negara penghasil minyak (OPEC+) yang menimbulkan kekhawatiran terhadap potensi kenaikan harga minyak global. Hanya, Andry meyakini fenomena tersebut hanya berdampak kecil terhadap harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri. 

"Selain itu, kenaikan harga minyak dunia yang terjadi baru-baru ini masih sejalan dengan asumsi harga minyak pemerintah dalam anggaran," tambah Andry. 

Ketiga, tetap ada risiko inflasi barang impor (imported inflation) yang berasal dari pelemahan nilai tukar rupiah. Dengan risiko tersebut, Andry mengapresiasi langkah yang telah dilakukan oleh pemerintah maupun BI. 

Pemerintah melakukan upaya pengendalian inflasi pangan, yang salah satunya dengan melakukan impor beras. Sedangkan BI juga telah melakukan perannya dengan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang salah satunya akan tetap menjaga inflasi impor. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×