kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.980.000   16.000   0,81%
  • USD/IDR 16.488   106,00   0,65%
  • IDX 7.830   -121,60   -1,53%
  • KOMPAS100 1.089   -17,02   -1,54%
  • LQ45 797   -14,45   -1,78%
  • ISSI 265   -3,29   -1,23%
  • IDX30 413   -7,90   -1,88%
  • IDXHIDIV20 481   -7,60   -1,56%
  • IDX80 120   -2,17   -1,77%
  • IDXV30 129   -2,94   -2,22%
  • IDXQ30 134   -2,35   -1,73%

Belanja Pemerintah Lambat, Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Berpotensi Tertekan


Sabtu, 30 Agustus 2025 / 18:22 WIB
Belanja Pemerintah Lambat, Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Berpotensi Tertekan
ILUSTRASI. Pekerja konstruksi menyelesaikan pembangunan gedung perkantoran di Jakarta, Senin (16/6/2025). KONTAN/Carolus Agus Waluyo/16/06/2025.


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Noverius Laoli

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, juga menilai belanja pemerintah belum memberikan dorongan nyata terhadap pertumbuhan ekonomi. Data menunjukkan kontribusi government spending dalam PDB masih negatif.

Menurut Yusuf, realisasi belanja yang tertahan dipengaruhi faktor teknis, seperti proses lelang, penyesuaian prioritas, serta kebijakan efisiensi anggaran yang berlaku tahun ini.

Keterlambatan ini berdampak pada beberapa hal.

Pertama, efek multiplier dari belanja negara untuk infrastruktur, bantuan sosial, maupun belanja barang dan jasa belum masuk ke sirkulasi ekonomi.

Baca Juga: Sinyal Darurat Ekonomi Indonesia

Kedua, konsumsi rumah tangga yang masih menjadi penopang daya beli tidak mendapat tambahan stimulus fiskal.

Ketiga, dunia usaha kehilangan momentum karena proyek pemerintah yang biasanya mendorong permintaan belum berjalan maksimal.

Selain itu, pola musiman belanja yang menumpuk pada kuartal akhir serta kebijakan efisiensi anggaran memperlambat perputaran ekonomi.

Baca Juga: Deputi Gubernur BI Sebut Ekonomi Indonesia Tahan Banting Hadapi Tantangan Global

"Jika kondisi ini berlanjut, pertumbuhan kuartal III bisa lebih lambat dari target, kecuali pemerintah mempercepat realisasi belanja pada bulan berikutnya," kata Yusuf.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×