Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Belanja Kementerian/Lembaga (K/L) membengkak di akhir tahun 2025. Per Desember, belanja K/L tembus 1.500,4 triliun, atau setara 129,3% dari pagu belanja APBN 2025 yang sebesar Rp 1.324 triliun.
Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara membeberkan penyebab membengkaknya belanja K/L tersebut dikarenakan adanya pergeseran anggaran yang menyesuaikan dengan prioritas program pemerintah.
"Ada juga yang sifat pergeseran anggaran itu termasuk dari belanja non-K/L menjadi belanja K/L. Kalau belanja non-K/L itu bergeser menjadi belanja K/L, karena di belanja non-KL biasanya ada cadangan-cadangan," ujar Suahasil dalam konfrensi pers APBN KiTA Edisi Januari 2026, Kamis (8/1/2026).
Menurut Suahasil, pergeseran belanja non K/L menjadi anggaran belanja K/L umumnya memuat cadangan anggaran, termasuk untuk penanganan bencana.
Baca Juga: Realisasi Serapan Belanja K/L 2025 Lambat, Ditjen Perbendaharaan Ungkap Alasannya
“Kalau terjadi bencana, maka cadangan tersebut dipindahkan menjadi belanja kementerian dan lembaga,” jelasnya.
Lebih lanjut, Suahasil mengingatkan bahwa pada awal 2025 pemerintah melakukan efisiensi anggaran sebesar Rp 306,7 triliun, baik dari belanja KL maupun transfer ke daerah (TKD), yang sebelumnya dilakukan melalui mekanisme blokir anggaran.
Blokir tersebut tidak menyentuh belanja pegawai, operasional dasar kementerian/lembaga, serta belanja bantuan sosial.
Seiring berjalannya tahun anggaran, pemerintah membuka kembali sebagian blokir tersebut. Sekitar Rp 206,4 triliun dibuka kembali untuk memastikan operasional dasar dan belanja bantuan sosial tetap berjalan.
Dengan fleksibilitas pergeseran anggaran tersebut, Suahasil menyebut pemerintah tetap dapat menjalankan seluruh program prioritas meskipun belanja pemerintah pusat terealisasi sekitar Rp 100 triliun lebih rendah dari pagu awal.
Baca Juga: Wamenkeu Ungkap Alasan Pembengkakan Belanja K/L 2025
Dari sisi komposisi belanja K/L, Suahasil mencatat belanja barang tumbuh 8,3% dibandingkan 2024, mencerminkan stimulus APBN terhadap perekonomian, terutama melalui pembelian barang produksi dalam negeri.
Belanja barang tersebut antara lain mencakup penyaluran Bantuan Operasional Sekolah (BOS), operasional layanan pendidikan, subsidi biodiesel, program makan bergizi gratis (MBG), bantuan subsidi upah, serta berbagai program lainnya.
Sementara itu, belanja modal juga mengalami peningkatan signifikan. Hingga akhir 2025, belanja modal tercatat mencapai Rp 427,5 triliun, atau tumbuh 20,3% dibandingkan tahun 2024.
Selanjutnya: XLSmart (EXCL) Catatkan Lonjakan Trafik hingga 12% Selama Periode Nataru
Menarik Dibaca: Promo Berhadiah Indomaret Periode 8-21 Januari 2026, Derma Angel Beli 1 Gratis 1
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













