kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.660.000   5.000   0,19%
  • USD/IDR 17.935   -9,00   -0,05%
  • IDX 5.896   -102,90   -1,72%
  • KOMPAS100 764   -13,28   -1,71%
  • LQ45 584   -4,02   -0,68%
  • ISSI 203   -5,25   -2,52%
  • IDX30 331   -1,77   -0,53%
  • IDXHIDIV20 408   -0,87   -0,21%
  • IDX80 87   -1,24   -1,41%
  • IDXV30 110   -1,47   -1,32%
  • IDXQ30 107   -0,13   -0,12%

Belanja K/L Membengkak Hingga 129,3% pada 2025, Ini Penjelasan Pemerintah


Kamis, 08 Januari 2026 / 17:30 WIB
Belanja K/L Membengkak Hingga 129,3% pada 2025, Ini Penjelasan Pemerintah
Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara (Dok/Kemenkeu). Wakil Menteri Keuangan menjelaskan mengapa belanja K/L 2025 tembus 129,3% dari pagu. Ini menunjukkan fleksibilitas APBN menghadapi tantangan.


Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Belanja Kementerian/Lembaga (K/L) membengkak di akhir tahun 2025. Per Desember, belanja K/L tembus 1.500,4 triliun, atau setara 129,3% dari pagu belanja APBN 2025 yang sebesar Rp 1.324 triliun.

Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara membeberkan penyebab membengkaknya belanja K/L tersebut dikarenakan adanya pergeseran anggaran yang menyesuaikan dengan prioritas program pemerintah.

"Ada juga yang sifat pergeseran anggaran itu termasuk dari belanja non-K/L menjadi belanja K/L. Kalau belanja non-K/L itu bergeser menjadi belanja K/L, karena di belanja non-KL biasanya ada cadangan-cadangan," ujar Suahasil dalam konfrensi pers APBN KiTA Edisi Januari 2026, Kamis (8/1/2026).

Menurut Suahasil, pergeseran belanja non K/L menjadi anggaran belanja K/L umumnya memuat cadangan anggaran, termasuk untuk penanganan bencana.

Baca Juga: Realisasi Serapan Belanja K/L 2025 Lambat, Ditjen Perbendaharaan Ungkap Alasannya

“Kalau terjadi bencana, maka cadangan tersebut dipindahkan menjadi belanja kementerian dan lembaga,” jelasnya.

Lebih lanjut, Suahasil mengingatkan bahwa pada awal 2025 pemerintah melakukan efisiensi anggaran sebesar Rp 306,7 triliun, baik dari belanja KL maupun transfer ke daerah (TKD), yang sebelumnya dilakukan melalui mekanisme blokir anggaran.

Blokir tersebut tidak menyentuh belanja pegawai, operasional dasar kementerian/lembaga, serta belanja bantuan sosial.

Seiring berjalannya tahun anggaran, pemerintah membuka kembali sebagian blokir tersebut. Sekitar Rp 206,4 triliun dibuka kembali untuk memastikan operasional dasar dan belanja bantuan sosial tetap berjalan. 

Dengan fleksibilitas pergeseran anggaran tersebut, Suahasil menyebut pemerintah tetap dapat menjalankan seluruh program prioritas meskipun belanja pemerintah pusat terealisasi sekitar Rp 100 triliun lebih rendah dari pagu awal.

Baca Juga: Wamenkeu Ungkap Alasan Pembengkakan Belanja K/L 2025

Dari sisi komposisi belanja K/L, Suahasil mencatat belanja barang tumbuh 8,3% dibandingkan 2024, mencerminkan stimulus APBN terhadap perekonomian, terutama melalui pembelian barang produksi dalam negeri. 

Belanja barang tersebut antara lain mencakup penyaluran Bantuan Operasional Sekolah (BOS), operasional layanan pendidikan, subsidi biodiesel, program makan bergizi gratis (MBG), bantuan subsidi upah, serta berbagai program lainnya.

Sementara itu, belanja modal juga mengalami peningkatan signifikan. Hingga akhir 2025, belanja modal tercatat mencapai Rp 427,5 triliun, atau tumbuh 20,3% dibandingkan tahun 2024.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Inventory Management: From Chaos to Control Sales Coaching: Lead Better, Sell More!

[X]
×