Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bank Indonesia (BI) menyatakan akan terus berupaya memperbaiki persepsi pasar terhadap profesionalitas dan kredibilitas kebijakan moneter bank sentral guna mendukung penguatan nilai tukar rupiah.
BI menilai perbaikan persepsi pasar menjadi penting untuk menunjukkan bahwa kondisi fundamental ekonomi Indonesia masih relatif aman. Maklum, Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengungkapkan bahwa pelemahan rupiah salah satunya dipicu oleh faktor persepsi pasar.
“Oleh karena itu, kita memang perlu memperbaiki persepsi tersebut dan menunjukkan bahwa sejauh ini kita masih relatif aman. Cadangan devisa kita juga masih sangat kuat di level US$ 156 miliar,” kata Destry.
Selain melakukan smart intervention di pasar keuangan, BI juga mengoptimalkan operasi moneter dengan memanfaatkan seluruh instrumen yang dimiliki. Upaya tersebut dilakukan melalui optimalisasi Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), pengelolaan suku bunga, serta peningkatan daya tarik aset rupiah melalui imbal hasil yang lebih kompetitif.
Baca Juga: Tekanan Global Dorong Rupiah Melemah, BI Tegaskan Siap Bertindak Agresif
“Tujuannya adalah membuat aset rupiah menjadi lebih atraktif dengan imbal hasil yang lebih menarik,” ujarnya.
BI juga menyoroti perkembangan positif transaksi mata uang lokal atau Local Currency Transaction (LCT). Sepanjang Januari hingga Desember 2025, volume transaksi LCT tercatat meningkat signifikan. Pada akhir Desember 2025, nilai LCT mencapai US$ 25,66 miliar, melonjak dibandingkan tahun 2024 yang sebesar US$ 12,5 miliar.
Menurut Destry, peningkatan penggunaan mata uang selain dolar AS merupakan bagian dari strategi BI untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar. Sejalan dengan itu, BI juga terus mengembangkan pasar non-dolar, termasuk membuka pasar rupiah–yen dengan Jepang serta rupiah–renminbi (RMB) dengan Tiongkok.
Baca Juga: Perry Warjiyo Pastikan Proses Pencalonan Deputi Gubernur BI Profesional
Dalam satu bulan terakhir, BI telah mengaktifkan perdagangan mata uang tersebut dan mencatat tren peningkatan. Langkah ini dinilai penting karena selama ini banyak bank yang membutuhkan RMB atau CNY masih melakukan transaksi melalui dolar AS.
“Mereka membeli dolar terlebih dahulu, baru kemudian membeli RMB atau CNY. Ini yang kami coba potong,” ujar Destry.
Ke depan, BI akan mendorong agar transaksi yang membutuhkan RMB atau CNY dapat langsung dilakukan melalui pasar rupiah–CNY. Dengan demikian, pasar non-dolar diharapkan semakin aktif dan turut mendukung stabilitas serta penguatan nilai tukar rupiah.
Selanjutnya: Saham United Tractors (UNTR) Anjlok Usai Izin Agincourt Dicabut, Ini Rekomendasinya
Menarik Dibaca: Pantau 5 Kripto Top Gainers 24 Jam Terakhir, LayerZero Memimpin
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













