CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.625.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 17.566   37,00   0,21%
  • IDX 6.589   -88,86   -1,33%
  • KOMPAS100 866   -10,49   -1,20%
  • LQ45 656   -8,27   -1,25%
  • ISSI 230   -3,63   -1,55%
  • IDX30 365   -4,62   -1,25%
  • IDXHIDIV20 452   -4,51   -0,99%
  • IDX80 99   -1,12   -1,12%
  • IDXV30 126   -0,86   -0,68%
  • IDXQ30 117   -1,27   -1,08%

Basarnas Bentuk Kampung Rescue untuk Percepat Respons Kedaruratan


Kamis, 10 September 2026 / 22:01 WIB
Basarnas Bentuk Kampung Rescue untuk Percepat Respons Kedaruratan
ILUSTRASI. Basarnas menyiapkan konsep kampung rescue untuk memperkuat kemampuan masyarakat dalam menghadapi kondisi darurat. ? (WARTA KOTA/YULIANTO)


Reporter: Leni Wandira | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) menyiapkan konsep kampung rescue untuk memperkuat kemampuan masyarakat dalam menghadapi kondisi darurat. Program ini diarahkan untuk membangun kemampuan respons cepat di tingkat desa sebelum bantuan dari tim SAR tiba di lokasi.

Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii mengatakan, kampung rescue akan dibangun dengan melibatkan perangkat desa dan masyarakat. Mereka akan mendapatkan edukasi serta keterampilan agar mampu mengambil tindakan awal ketika terjadi kondisi kedaruratan di wilayahnya.

“Kita akan menciptakan kampung rescue yaitu kampung yang memiliki kemampuan respons cepat untuk emergensi,” ujar Mohammad Syafii saat ditemui dalam kegiatan ADExco 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis (10/9/2026).

Baca Juga: Harga Minyak Naik ke US$ 100 per Barel, Ekonom Ingatkan Efeknya ke BBM & Risiko APBN

Menurutnya, kebutuhan penguatan respons di tingkat masyarakat tidak terlepas dari beragam potensi kedaruratan yang dihadapi Indonesia. Kondisi tersebut tidak hanya berasal dari bencana geologi maupun hidrometeorologi, tetapi juga kecelakaan transportasi darat, laut dan udara hingga kondisi yang membahayakan manusia saat melakukan aktivitas sehari-hari maupun berwisata.

Karena itu, kemampuan masyarakat untuk melakukan tindakan awal dinilai penting. Dalam konsep kampung rescue, perangkat desa akan menjadi bagian dari penggerak yang memastikan masyarakat memiliki pengetahuan dan keterampilan dasar dalam menghadapi kondisi darurat.

“Kalau misalkan kampung ini memiliki pengetahuan yang dipimpin oleh perangkat desa, memiliki kemampuan dan juga mendapatkan edukasi maupun skill tentunya pada saat terjadi kedaruratan bisa mengambil tindakan awal,” katanya.

Syafii menjelaskan, konsep tersebut sejalan dengan pola Basarnas dalam membangun kekuatan pencarian dan pertolongan. Basarnas menjadi kekuatan inti, sedangkan kementerian dan lembaga yang memiliki kompetensi terkait dapat menjadi komponen pendukung.

Di luar itu, masyarakat yang berada di wilayah yang tidak terdampak juga diharapkan memiliki kemampuan untuk melakukan tindakan awal apabila terjadi kondisi darurat di lingkungan sekitarnya.

Baca Juga: Pagu Kementerian PU 2027 Terbatas,Kebutuhan Ditjen Cipta Karya Kurang Rp18,62 Triliun

“Seperti konsep Basarnas dalam membangun kekuatan, kekuatan inti tentunya ada di Basarnas. Kita memiliki komponen cadangannya yaitu potensi-potensi kementerian lembaga yang memiliki kompetensi untuk penanganan darurat,” ujar Syafii.

Program penguatan kapasitas masyarakat sebenarnya telah dijalankan Basarnas. Salah satu contohnya dilakukan melalui pelatihan kepada para kepala desa di Sumatera Utara.

Syafii mengatakan, pelatihan tersebut mendapat respons positif dari pemerintah daerah. Kepala desa yang mengikuti pelatihan dan memiliki sertifikat bahkan mendapatkan insentif dari pemerintah daerah setempat.

Pengalaman tersebut kemudian menjadi salah satu dasar bagi Basarnas untuk mengembangkan program pemberdayaan masyarakat dengan konsep yang lebih terarah melalui kampung rescue.

“Karena itu kita kembangkan. Waktu itu kita memang belum memiliki nama. Karena itu kita punya ide dengan teman-teman FKP3 ini akan membentuk nomenklatur kampung rescue,” katanya.

Forum Komunikasi Potensi SAR (FKP3) menjadi salah satu wadah untuk merumuskan gagasan tersebut. Menurut Syafii, forum ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi antarpotensi SAR, tetapi juga tempat untuk menyusun ide dan gagasan dalam membangun Indonesia yang lebih tangguh menghadapi kondisi kedaruratan.

Penguatan kesiapsiagaan masyarakat juga perlu berjalan bersama dengan kepatuhan terhadap informasi dan peringatan dari lembaga yang memiliki kewenangan dalam penanganan kebencanaan.

Syafii mencontohkan kondisi erupsi gunung berapi. Menurutnya, masyarakat harus mengikuti informasi dan batas wilayah yang telah ditetapkan berdasarkan kajian dari lembaga terkait.

“Kita sama-sama tahu kejadian erupsi gunung berapi. Sebenarnya yang tahu proses ilmunya adalah teman-teman yang ada di PVMBG. Karena itu pada saat ada deklarasi yang disampaikan oleh Kementerian ESDM melalui PVMBG tentunya itu harus kita ikuti,” ujarnya.

Ia menilai pemahaman terhadap risiko menjadi bagian penting dalam kesiapsiagaan masyarakat. Sebab, respons terhadap kondisi darurat bukan hanya membutuhkan kemampuan teknis, tetapi juga keputusan yang tepat agar masyarakat maupun petugas tidak menghadapi risiko tambahan.

Dalam pengembangan kampung rescue, Basarnas juga ingin membangun kemampuan masyarakat agar dapat memberikan respons awal sesuai kondisi yang dihadapi. Dengan demikian, penanganan kedaruratan tidak sepenuhnya bergantung pada waktu kedatangan tim SAR dari luar wilayah.

Di sisi lain, perkembangan teknologi menjadi salah satu faktor yang dapat mendukung peningkatan kemampuan pencarian dan pertolongan. Teknologi dan inovasi dapat digunakan untuk memperkuat kemampuan petugas maupun masyarakat dalam menghadapi berbagai kondisi kedaruratan.

Hal tersebut turut menjadi perhatian dalam penyelenggaraan ADExco 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta. Syafii mengatakan, kegiatan tersebut dapat menjadi ruang untuk melihat perkembangan teknologi dan inovasi yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kemampuan penanganan kebencanaan.

“Ini menjadi ajang bagaimana kita melihat perkembangan dan inovasi teknologi dan di sini mulai dari teman-teman dari akademisi sampai dari private sector juga ada di sini,” ucap Syafii.

Menurutnya, keterlibatan akademisi dan sektor swasta dalam kegiatan tersebut membuka ruang untuk melihat berbagai perkembangan teknologi yang dapat dimanfaatkan ke depan oleh pemerintah maupun institusi terkait.

“Event-event seperti ini sebenarnya sarana yang bisa dimanfaatkan untuk membuat ke depan lebih baik,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×