Reporter: Siti Masitoh | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bank Indonesia (BI) bersama Asosiasi Pasar Uang dan Pasar Valuta Asing Indonesia (APUVINDO) memperkuat sinergi untuk memperdalam pasar uang dan pasar valuta asing (PUVA). Upaya ini dilakukan melalui pengembangan produk, perluasan partisipasi pelaku pasar, serta penguatan infrastruktur pasar keuangan.
Penguatan tersebut menjadi bagian dari upaya mempercepat implementasi Blueprint Pendalaman Pasar Uang dan Pasar Valuta Asing 2030 (BPPU 2030).
Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, menegaskan pentingnya percepatan implementasi BPPU 2030 dengan mengarahkan fokus pengembangan PUVA dari penguatan fondasi menuju peningkatan aktivitas dan pemanfaatan produk serta infrastruktur pasar.
“Keberhasilan pendalaman PUVA tidak cukup berhenti pada tersedianya ketentuan dan infrastruktur, tetapi harus tercermin dari peningkatan aktivitas transaksi, perluasan partisipasi pelaku pasar yang kompeten, pembentukan harga yang semakin baik, serta penguatan tata kelola dan integritas pasar," tegas Destry, mengutip keterangan tertulisnya, Selasa (27/10/2026).
Baca Juga: BI: Dominasi Transaksi Valas di Pasar Spot Bikin Rupiah Rentan Goyah
Untuk itu, ia menekankan, industri didorong semakin aktif dalam menyediakan likuiditas, mengembangkan inovasi, dan mengatasi hambatan implementasi untuk mengakselerasi pendalaman PUVA.
Sejalan dengan hal tersebut, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, menekankan pentingnya pendalaman pasar keuangan untuk memperkuat sumber pembiayaan pembangunan ekonomi nasional.
Pendalaman pasar tidak hanya bertumpu pada peningkatan volume transaksi dan pengembangan instrumen, tetapi juga memerlukan tata kelola yang baik, integritas pelaku, transparansi, dan kepercayaan pasar.
OJK berkomitmen memperkuat sinergi dengan BI, APUVINDO, dan pemangku kepentingan terkait untuk mewujudkan pasar keuangan yang semakin dalam, sehat, dan berdaya saing.
Untuk diketahui, implementasi BPPU 2030 terus diperkuat melalui pengembangan produk, pembentukan harga, peningkatan kapasitas pelaku, dan penguatan infrastruktur pasar keuangan.
Baca Juga: Pengetatan Threshold Valas Bisa Perkuat Stabilitas, Tapi Kedalaman Pasar Diuji
Berbagai capaian strategis telah dihasilkan antara lain pengembangan transaksi repo untuk meningkatkan likuiditas pasar uang, penguatan INDONIA sebagai referensi suku bunga, serta pengembangan instrumen lindung nilai dan transaksi valuta asing. Capaian tersebut didukung penguatan peran Dealer Utama PUVA, peningkatan kompetensi dan integritas pelaku pasar, serta pengembangan infrastruktur untuk mendukung transaksi yang lebih efisien dan aman.
Memasuki 2027, BI bersama APUVINDO akan mengakselerasi implementasi BPPU 2030 melalui empat prioritas strategis, yaitu pengembangan pasar uang, pengembangan pasar valuta asing, penguatan pelaku pasar, dan pengembangan infrastruktur pasar keuangan.
Pengembangan pasar uang difokuskan pada penguatan Surat Berharga Komersial (SBK) sebagai alternatif pembiayaan sektor riil, perluasan penggunaan INDONIA sebagai referensi suku bunga berbagai produk keuangan, serta peningkatan likuiditas Overnight Index Swap (OIS) untuk mendukung pembentukan suku bunga yang lebih efisien. Upaya tersebut didukung perluasan basis investor dan peningkatan aktivitas transaksi di pasar sekunder.
Pengembangan pasar valuta asing dilakukan melalui perluasan akses lindung nilai dan penguatan konektivitas pasar domestik dengan pasar global. Optimalisasi VASTRA diarahkan untuk mempermudah akses lindung nilai bagi investor global, meningkatkan daya tarik aset Rupiah, serta mendukung aliran investasi portofolio berkelanjutan.
Sementara itu, penguatan ekosistem Renminbi, termasuk pengembangan Renminbi Clearing Bank, ditujukan untuk meningkatkan likuiditas dan efisiensi transaksi Renminbi-Rupiah serta mendukung implementasi Local Currency Transaction (LCT) Indonesia–Tiongkok.
Baca Juga: BI Rilis Kurva Imbal Hasil Pasar Uang, Demi Perkuat Transparansi Pembentukan Harga
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














