Reporter: Siti Masitoh | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bank Dunia alias World Bank menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,7% pada tahun 2026.
Proyeksi ini lebih rendah jika dibandingkan dengan proyeksi Bank Dunia pada Oktober 2025, di mana pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan bisa tumbuh 4,8%. Juga lebih rendah dari target pemerintah dalam APBN 2026 sebesar 5,4%.
Direktur Jenderal Direktorat Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal, Kementerian Keuangan Febrio Nathan Kacaribu membeberkan, pihaknya masih optimistis pertumbuhan ekonomi tahun ini akan mencapai sesuai yang sudah ditargetkan.
Baca Juga: Prabowo Bakal Groundbreaking 21 Proyek Hilirisasi & 29 Titik PSEL di Bulan Ini
“Yakin. Kita senang kalau World Bank selalu memantau perekonomian kita. Tetapi estimasi mereka jelas jauh di bawah kita dan tahun lalu ingat tidak mereka bilang 4,8% kita jatuhnya 5,1%,” tutur Febrio kepada awak media, Kamis (9/4/2026).
Febrio menyampaikan, memang selama ini Bank Dunia dan investor sangat tertarik memantau perkembangan perekonomian Indonesia. Tujuannya memastikan Indonesia mampu memberikan kinerja yang baik sehingga menjadi kabar positif bagi investor.
Febrio menyebut, pertumbuhan ekonomi Indonesia paling utama didorong oleh konsumsi rumah tangga sekitar 50%. Kemudian, didorong oleh belanja pemerintah 8% hingga 9%, sebanyak 30% dari investasi, dan 25% dari ekspor.
“Lalu kalau sektor-sektor kita lihat yang paling menarik sebenarnya yang jarang kita lihat adalah sektor pertanian. Tahun-tahun sebelumnya itu tumbuhnya cuma di bawah 2%. Pertanian ini share-nya itu sekitar 13% dari ekonomi kita, dan jumlah pekerjanya sekitar 40 juta,” ungkapnya.
Baca Juga: Pemerintah Siapkan Skema Khusus Redam Lonjakan Harga Plastik
Ia menyebut, sektor pertanian yang biasanya tumbuh melambat, pada tahun lalu bisa tumbuh di atas 5%. Sehingga sektor tersebut akan menjadi andalan mendorong pertumbuhan ekonomi tahun ini.
Febrio juga menambahkan, pertumbuhan sektor tanaman pangan mencapai di atas 9% tahun lalu, yang menunjukkan adanya perubahan struktur dalam perekonomian. Hal ini dinilai sejalan dengan arahan Presiden.
Ia menjelaskan bahwa penguatan belanja di sektor pertanian turut mendorong kinerja tersebut, termasuk ketersediaan pupuk sejak 1 Januari yang langsung berdampak pada peningkatan panen. Selain itu, pertumbuhan komoditas beras tercatat di atas 13–14% pada tahun sebelumnya.
Lebih lanjut, Febrio juga meyakini bahwa program MBG mendorong peningkatan permintaan terhadap produk pertanian secara signifikan, sehingga ekosistem sektor pertanian dan desa mengalami perubahan besar pada 2025. Kondisi ini diperkirakan akan berlanjut pada 2026 seiring dengan fokus kebijakan yang tetap kuat.
Baca Juga: Soal Pengadaan Motor Listrik BGN, Menkeu Purbaya: Sebagian Sudah Ditolak
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa sektor pertanian memberikan kontribusi yang sangat besar. Di sisi lain, sektor manufaktur juga menunjukkan kinerja menarik dengan pertumbuhan sekitar 5,4% pada tahun lalu, yang dinilai relatif tinggi karena biasanya berada di bawah 5%.
Meski demikian, Febrio menyebut perekonomian Indonesia menghadapi berbagai tantangan. Namun iya juga optimistis, bahwa defisit APBN, belanja negara, dan daya beli masyarakat tetap dijaga agar pertumbuhan ekonomi dapat terus berlanjut.
Ia juga menambahkan bahwa pertumbuhan ekonomi pada kuartal I, II, dan seterusnya akan sangat ditentukan oleh kecepatan eksekusi belanja negara. Sebagai contoh, pada tahun lalu realisasi belanja negara pada kuartal I hanya sekitar Rp 600 triliun, sementara pada kuartal I tahun ini telah mencapai Rp 815 triliun atau tumbuh sekitar 30%.
“Nah ini pasti langsung akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi untuk kuartal I 2026. Makanya kita yakin 5,5% (kuartal I 2026) itu akan tercapai,” tandasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













