kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.709.000   20.000   0,74%
  • USD/IDR 17.818   -194,00   -1,08%
  • IDX 6.008   121,62   2,07%
  • KOMPAS100 794   18,85   2,43%
  • LQ45 597   10,61   1,81%
  • ISSI 206   5,10   2,54%
  • IDX30 339   4,60   1,38%
  • IDXHIDIV20 418   3,54   0,86%
  • IDX80 90   1,96   2,24%
  • IDXV30 113   2,76   2,50%
  • IDXQ30 109   1,12   1,03%

Bank Dunia Ingatkan Tekanan Fiskal Indonesia Belum Mereda hingga 2028


Kamis, 11 Juni 2026 / 14:33 WIB
Bank Dunia Ingatkan Tekanan Fiskal Indonesia Belum Mereda hingga 2028
ILUSTRASI. Bank Dunia memproyeksikan defisit anggaran Indonesia akan bertahan dekat batas UU hingga 2028


Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID-JAKARTA Bank Dunia alias World Bank memperkirakan ruang fiskal Indonesia akan tetap berada di bawah tekanan dalam beberapa tahun ke depan. 

Defisit anggaran diproyeksikan bertahan dekat dengan batas maksimal yang diizinkan undang-undang seiring tingginya kebutuhan belanja untuk subsidi dan berbagai program prioritas pemerintah.​

Dalam laporan Indonesia Economic Prospects edisi Juni 2026, Bank Dunia memperkirakan defisit fiskal mencapai 2,8% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2026. 

Baca Juga: BI Prediksi Penjualan Eceran di Banjarmasin, Jakarta & Medan Meningkat pada Mei 2026

Angka tersebut diproyeksikan tetap bertahan pada level yang sama pada 2027 sebelum turun tipis menjadi 2,7% pada 2028.

Menurut Bank Dunia, tingginya defisit mencerminkan tekanan gabungan dari meningkatnya belanja subsidi dan kebutuhan pendanaan berbagai program prioritas pemerintah yang membutuhkan alokasi anggaran besar.

"Defisit fiskal tetap berada dekat dengan batas maksimum yang ditetapkan undang-undang dalam jangka menengah," tulis Bank Dunia dalam laporan tersebut, dikutip Kamis (11/6/2026).

Meski demikian, lembaga tersebut memperkirakan penerimaan negara akan mulai membaik dalam beberapa tahun ke depan. 

Perbaikan itu didorong oleh berkurangnya penumpukan restitusi pajak serta mulai terlihatnya hasil reformasi administrasi perpajakan yang sedang dijalankan pemerintah.

Dalam jangka pendek, penerimaan negara juga masih mendapat dukungan dari tingginya harga sejumlah komoditas ekspor utama Indonesia. 

Harga batu bara, gas alam cair (LNG), nikel, emas, dan minyak sawit diperkirakan memberikan tambahan dukungan terhadap penerimaan negara dengan dampak bersih sekitar 0,4% terhadap PDB.

Namun, Bank Dunia mengingatkan bahwa tekanan terhadap fiskal tidak hanya berasal dari sisi belanja. Beban pembayaran bunga utang juga diproyeksikan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan.

Baca Juga: Bank Dunia Bunyikan Alarm untuk Kelas Menengah Indonesia, Upah Riil Terus Turun

Rasio pembayaran bunga terhadap penerimaan negara diperkirakan naik dari 18,7% pada 2025 menjadi 19,2% pada 2028. Artinya, porsi penerimaan negara yang digunakan untuk membayar bunga utang akan semakin besar.

Selain itu, Bank Dunia memperkirakan Indonesia masih akan mencatat defisit primer rata-rata sebesar 0,4% terhadap PDB sepanjang periode 2026–2028. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×