kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.614.000   8.000   0,31%
  • USD/IDR 17.940   -67,00   -0,37%
  • IDX 6.176   67,33   1,10%
  • KOMPAS100 814   12,72   1,59%
  • LQ45 622   13,33   2,19%
  • ISSI 212   0,39   0,18%
  • IDX30 351   8,04   2,34%
  • IDXHIDIV20 438   9,47   2,21%
  • IDX80 93   1,54   1,68%
  • IDXV30 117   0,44   0,38%
  • IDXQ30 113   2,94   2,65%

Banggar sepakati asumsi ICP turun jadi US$ 63 dalam APBN 2020


Senin, 02 September 2019 / 21:33 WIB
ILUSTRASI. Banggar DPR mengubah asumsi harga minyak mentah atau Indonesia Crude Price (ICP) dalam APBN 2020


Reporter: Grace Olivia | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID -JAKARTA. Badan Anggaran (Banggar) DPR mengubah asumsi harga minyak mentah atau Indonesia Crude Price (ICP) dalam APBN 2020. Ini sejalan dengan hasil pembahasan pemerintah dengan Komisi VII sebelumnya yang memprediksi tren harga minyak mentah dunia masih akan rendah di tahun depan.

Rapat Panitia Kerja dengan Pemerintah terkait Asumsi Dasar dan Pendapatan dalam RUU APBN Tahun 2020, Senin (2/9), memutuskan, asumsi ICP sebesar US$ 63 per barel, lebih rendah dari asumsi dalam RAPBN 2020 yaitu US$ 65 per barel.

Ketua Koordinator Panja Pemerintah untuk APBN 2020 sekaligus Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Suahasil Nazara sebelumnya mengusulkan asumsi harga ICP berada dalam rentang US$ 58 - US$ 63 per barel sesuai dengan hasil pembahasan rapat kerja Komisi VII.

“Pertimbangan di Komisi VII adalah karena rata-rata ICP di Juli lalu masih di bawah US$ 60. Semetara Januari-Juli itu rata-ratanya hannya US$ 62,88. Kami perkirakan range di 2020 juga akan seperti ini,” tutur Suahasil.

Baca Juga: Kembali berubah, subsidi untuk solar dialokasikan Rp 1.500 per liter pada tahun 2020

Perubahan asumsi dasar harga ICP ini menuai kritik dari Banggar. Pasalnya, perubahan yang diajukan cukup signifikan dari yang tercantum dari RAPBN 2020 yang disampaikan oleh Presiden pada 16 Agustus lalu.

“Kenapa asumsi yang diajukan harus dalam range dan cukup besar juga sampai 5%. Kalau begini besar range-nya, sekalian saja tidak usah pakai asumsi,” pungkas anggota Banggar dari Fraksi Gerindra Bambang Haryo.

Suahasil menjelaskan, perubahan asumsi harga ICP sejalan dengan volatilitas perekonomian global yang diperkirakan tetap tinggi di tahun depan. Apalagi, prediksi untuk pertumbuhan ekonomi dan perdagangan global semakin menurun.

Downside risk pada pertumbuhan ekonomi dan perdagangan dunia akan membuat permintaan terhadap minyak mentah mengecil juga dan tren harga akan makin menurun seperti yang sudah terlihat saat ini,” tutur Suahasil.




TERBARU

[X]
×