kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45956,61   8,16   0.86%
  • EMAS1.017.000 0,30%
  • RD.SAHAM -0.04%
  • RD.CAMPURAN -0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Aturan Turunan PPN 11% Belum Terbit, Ini Alasan Dirjen Pajak


Selasa, 05 April 2022 / 13:01 WIB
Aturan Turunan PPN 11% Belum Terbit, Ini Alasan Dirjen Pajak
ILUSTRASI. Dirjen Pajak Suryo Utomo di Jakarta, Selasa (11/02). Aturan Turunan PPN 11% Belum Terbit, Ini Alasan Dirjen Pajak .


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Pemerintah resmi menetapkan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) 11% pada 1 April 2022. Namun, aturan turunan dari penerapan PPN tersebut masih dikaji lebih dalam, terutama terkait aturan turunan fasilitas PPN yang dibebaskan pemerintah.

Direktur Jendral Pajak (Dirjen Pajak) Suryo Utomo mengatakan, aturan turunan dari PPN atau Peraturan Pemerintah (PP) untuk beberapa jenis barang dan jasa yang dibebaskan PPN, sedang dalam proses penggodokan.

“Karena dalam mengurus PP kan pasti berproses. Jadi saya ingin jelaskan kepada masyarakat, kalau PP-nya tetap kami proses,” tuturnya dalam diskusi virtual, Selasa (5/4).

Baca Juga: Daftar Barang dan Jasa yang Bebas PPN 11%, Sudah Tahu Apa Saja?

Kendati demikian, Suryo belum bisa memastikan kapan PP tersebut akan terbit. Ia memastikan bahwa proses persiapan kebijakan ini akan dilakukan dengan matang dan minim risiko. 

Ia juga menegaskan untuk kebutuhan barang dan jasa masyarakat tetap akan dilindungi oleh pemerintah. Untuk itu, Ia menghimbau agar masyarakat tidak khawatir naiknya PPN ini akan mengganggu kebutuhan pokok mereka.

Adapun, Kementerian Keuangan merinci beberapa barang dan jasa tertentu yang diberikan fasilitas bebas PPN meliputi:

1. Barang kebutuhan pokok: beras, gabah, jagung, sagu, kedelai, garam, daging
2. Telur, susu, buah-buahan, sayur-sayuran, dan gula konsumsi
3. Jasa kesehatan, jasa pendidikan, jasa sosial, jasa asuransi, jasa keuangan, jasa angkutan umum, dan jasa tenaga kerja
4. Vaksin, buku pelajaran dan kitab suci
5. Air bersih (termasuk biaya sambung/pasang dan biaya beban tetap)
6. Listrik (kecuali untuk rumah tangga dengan daya >6600 VA)
7. Rusun sederhana, rusunami, RS, dan RSS
8. Jasa konstruksi untuk rumah ibadah dan jasa konstruksi untuk bencana nasional
9. Mesin, hasil kelautan perikanan, ternak, bibit/benih, pakan ternak, pakan ikan, bahan pakan, jangat dan kulit mentah, bahan baku kerajinan perak
10. Minyak bumi, gas bumi (gas melalui pipa, LNG dan CNG) dan panas bumi
11. Emas batangan dan emas granula
12. Senjata/alutsista dan alat foto udara

Baca Juga: PPN Jadi 11%, Indihome Melakukan Penyesuaian Tarif

Sebagai bagian dari reformasi perpajakan, penyesuaian tarif PPN juga dibarengi dengan:

1. Penurunan tarif Pajak Penghasilan (PPh) Orang Pribadi atas penghasilan sampai dengan Rp60 juta dari 15 persen menjadi 5 persen.
2. Pembebasan pajak untuk pelaku UMKM dengan omzet sampai dengan Rp500 juta.
3. Fasilitas PPN final dengan besaran tertentu yang lebih kecil, yaitu 1%, 2% atau 3%.
4. Layanan restitusi PPN dipercepat sampai dengan Rp 5 miliar tetap diberikan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU

[X]
×