Sumber: Kompas.com | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Amerika Serikat (AS) melancarkan operasi militer di ibu kota Venezuela, Caracas, pada Sabtu (3/1/2026). Hal itu mengakibatkan terjadinya beberapa ledakan di sejumlah lokasi Caracas. Warga yang panik pun berhamburan ke luar rumah.
Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa pasukan gabungan militer telah menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, dalam serangan itu.
“AS berhasil melakukan serangan skala besar terhadap Venezuela dan pemimpinnya, Presiden Nicolas Maduro, yang ditangkap bersama istrinya dan diterbangkan keluar dari negara itu,” katanya dikutip dari Kompas.com, Minggu (4/1/2026).
Trump menuding Venezuela sebagai asal dari gelombang migran yang memadati perbatasan selatan AS dalam beberapa tahun terakhir. Ia juga menuduh bahwa pemerintahan Maduro membebaskan para tahanan dan pasien rumah sakit jiwa untuk dikirim ke AS sebagai bagian dari skema migrasi massal.
Selain itu, Trump juga mengeklaim bahwa Venezuela sebagai jalur transit utama dalam penyelundupan kokain dan berperan dalam krisis fentanil yang menewaskan ribuan warga AS. Pemerintah Venezuela membantah keras klaim tersebut dan menyebut pernyataan Trump sebagai fitnah tak berdasar.
Di sisi lain, Venezuela sendiri diketahui memiliki cadangan minyak terbesar di dunia. Oleh karena itu, minyak global termasuk Indonesia berpotensi terganggu akibat konflik AS–Venezuela.
Baca Juga: Wajib Aktifkan MFA ASN Digital! Ini Cara dan Solusi Jika Gagal Login
Apakah konflik AS–Venezuela berdampak pada BBM di Indonesia?
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan eskalasi konflik AS–Venezuela belum berdampak signifikan terhadap pasokan bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia.
Dirjen Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Laode Sulaeman mengatakan pemerintah belum melihat dampak langsung dari situasi di Venezuela terhadap pasokan maupun harga BBM saat ini.
“Kita sumber crude-nya itu bukan dari sana. Jadi dari wilayah lain. Jadi masih stabil,” kata dia dilansir dari Antara, Senin (5/1/2026).
Laode menyebut, pemerintah tetap melakukan langkah antisipasi dan pemantauan perkembangan situasi, termasuk potensi dampaknya terhadap harga minyak dunia.
Sementara itu, PT Pertamina Internasional Eksplorasi dan Produksi (PIEP) menyampaikan perusahaan merupakan pemegang saham mayoritas dengan kepemilikan 71,09 persen pada Maurel & Prom (M&P) yang salah satu asetnya berada di Venezuela.
PIEP menyatakan berdasarkan pemantauan yang dilakukan, hingga saat ini tidak terdapat dampak terhadap aset dan staf M&P di Venezuela. Perusahaan juga menyampaikan terus melakukan pemantauan secara cermat serta menjalin koordinasi berkelanjutan dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Caracas sebagai langkah kehati-hatian.
Baca Juga: Strategi Front Loading, Kemenkeu Targetkan Lelang SBN Rp 220 Triliun Kuartal I-2026













