kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.860.000   3.000   0,11%
  • USD/IDR 17.127   21,00   0,12%
  • IDX 7.458   150,91   2,07%
  • KOMPAS100 1.029   19,80   1,96%
  • LQ45 746   12,57   1,71%
  • ISSI 269   4,55   1,72%
  • IDX30 400   7,29   1,85%
  • IDXHIDIV20 490   9,98   2,08%
  • IDX80 115   1,84   1,62%
  • IDXV30 135   1,86   1,40%
  • IDXQ30 129   2,36   1,86%

AS dan Australia hancurkan kepercayaan Indonesia


Rabu, 06 November 2013 / 13:01 WIB
ILUSTRASI. Pegawai melayani wajib pajak di KPP Pratama Jakarta Tanah Abang Tiga, Jakarta,


Reporter: Noverius Laoli | Editor: Dikky Setiawan

JAKARTA. Pemerintah Indonesia menyampaikan rasa kecewa dan penyesalan atas dugaan penyadapan yang dilakukan Amerika Serikat (AS) dan Australia terhadap Indonesia. Hal itu berpotensi merusak kepercayaan Indonesia terhadap kedua negara.

Hal itu dikatakan Juru Bicara Kepresidenan Julian Aldrin Pasha di Pangkalan TNI AU, Rabu (6/11). Menurut Julian, Menteri Luar Negeri (Menlu) Marty Natalegawa telah melaporkan hasil pemanggilan Duta Besar kedua negara kepada Presiden.

"Tadi pak Menlu sudah melaporkan kepada bapak presiden mengenai kabar dugaan aksi penyadapan oleh kedutaan besar ini," tutur Julan.

Kini, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam posisi menunggu sikap resmi dari pemerintah AS dan Australia terkait penyadapan terhadap pemerintah Indonesia. Namun, aksi penyadapan tersebut telah menghancurkan dan mencederai kepercayaan Indonesia kepada dua negara sekutu.

Kedutaan besar Australia tidak membantah atau membenarkan aksi penyadapan yang dilakukan terhadap Indonesia, saat Kementerian Luar Negeri memanggil dan meminta penjelasan.

Terkait penyadapan tersebut, pemerintah Indonesia telah menyampaikan protes keras kepada pemerintah AS dan Australia.

Julian bilang, SBY meminta negara-negara yang dimaksud tidak mengulangi perbuatannya seperti aksi-aksi penyadapan di masa mendatang. Sementara itu, pemerintah Indonesia juga memastikan bahwa akan memperbaiki sistem informasi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×