Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek aliran modal asing (capital inflow) ke pasar keuangan Indonesia dalam waktu dekat diperkirakan masih sangat bergantung pada perkembangan sentimen global. Namun, bauran kebijakan Bank Indonesia (BI) dinilai turut menjadi faktor penting dalam menjaga daya tarik aset domestik di tengah ketidakpastian global.
Ekonom PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, Myrdal Gunarto, menilai meredanya tensi geopolitik di Timur Tengah dan sikap dovish bank sentral Amerika Serikat (The Fed) dapat menjadi katalis positif bagi masuknya dana asing ke pasar domestik.
"Kalau kita lihat sekarang memang situasi tensi geopolitik sudah mulai mengarah ke penurunan tensi antara Amerika dengan Iran dan Israel. Kalau itu berlanjut, harga minyak juga berpotensi turun dan itu akan menjadi sentimen positif bagi pasar keuangan kita," ujar Myrdal kepada Kontan, Minggu (14/6/2026).
Menurutnya, apabila kondisi geopolitik terus membaik dan The Fed memutuskan menahan suku bunga acuannya pada pertemuan bulan ini, maka aliran dana asing ke pasar saham Indonesia berpotensi meningkat signifikan.
Baca Juga: Ketahanan Cadangan Devisa RI Bergantung Perkembangan Rupiah dan Capital Inflow
Ia memperkirakan inflow ke pasar saham pada pekan ini dapat mencapai sekitar US$ 600 juta. Sementara itu, aliran dana asing ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) juga diperkirakan akan meningkat apabila sentimen global semakin kondusif.
Selain menopang capital inflow, kondisi tersebut juga dinilai akan memberikan ruang penguatan bagi nilai tukar rupiah. Myrdal memperkirakan rupiah berpotensi menguat menuju kisaran Rp17.685 per dolar Amerika Serikat apabila The Fed menahan suku bunga dan harga minyak Brent turun ke kisaran US$ 80-US$ 82 per barel.
Namun, ia mengingatkan skenario tersebut dapat berubah apabila Bank Indonesia kembali menaikkan suku bunga acuan. Menurutnya, kenaikan suku bunga justru berpotensi memicu arus keluar modal dari pasar saham dan instrumen jangka panjang.
"Kalau BI menaikkan suku bunga, justru bukannya inflow tetapi bisa terjadi outflow. Kalau pun ada dana yang masuk, kemungkinan hanya ke instrumen obligasi dengan tenor pendek," katanya.
Sebelumnya Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti menyampaikan respons positif pasar terhadap bauran kebijakan yang ditempuh bank sentral.
Baca Juga: Gubernur BI Isyaratkan Kenaikan BI Rate Juni demi Tarik Capital Inflow
Destry mengatakan nilai tukar rupiah pada Jumat (12/6/2026) ditutup di level Rp 17.865,75 per dolar AS atau menguat 0,84% dibandingkan penutupan 5 Juni 2026 di level Rp 18.010,20 per dolar AS.
Menurutnya, penguatan tersebut mencerminkan respons positif pasar terhadap kombinasi kebijakan Bank Indonesia, mulai dari kenaikan BI-Rate menjadi 5,50%, penguatan struktur suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), pemberian insentif hedging swap bagi investor asing, pembukaan akses repo untuk mendukung likuiditas perbankan, hingga peningkatan intensitas operasi moneter rupiah dan valuta asing.
Pasca kenaikan BI-Rate, aliran modal asing juga menunjukkan perkembangan positif. Berdasarkan data BI, transaksi SRBI nonresiden pada 10-11 Juni 2026 mencatat inflow sebesar Rp 15,11 triliun, sementara aliran masuk ke SBN mencapai Rp 3,91 triliun.
Selain itu, obligasi internasional Danantara juga mencatat penjualan perdana sebesar Rp 26,9 triliun, yang menurut BI menjadi indikasi masih kuatnya kepercayaan investor terhadap aset-aset domestik.
Destry menambahkan, ketahanan eksternal Indonesia juga diperkuat melalui kerja sama Bank Indonesia dengan People's Bank of China (PBOC) dan Hong Kong Monetary Authority (HKMA), termasuk penguatan Bilateral Currency Swap Agreement (BCSA) serta perluasan penggunaan mata uang lokal melalui skema Local Currency Transaction (LCT).
Langkah tersebut dinilai akan mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat sekaligus memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah.
"Dengan berbagai perkembangan tersebut, diyakini rupiah akan terus menguat terhadap dolar AS menuju level fundamentalnya," ujar Destry.
Di sisi lain, Myrdal menilai arah capital inflow ke Indonesia dalam jangka pendek tetap akan sangat ditentukan oleh kombinasi sentimen global dan respons kebijakan domestik.
Jika tensi geopolitik terus mereda, harga minyak turun, dan The Fed menahan suku bunga, pasar keuangan Indonesia dinilai masih memiliki ruang untuk menarik aliran modal asing yang lebih besar.
Baca Juga: Agar Capital Inflow, BI Rate Perlu Naik ke 6% dan Yield SBN/SRBI di Atas 7%
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













