kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.765.000   -24.000   -0,86%
  • USD/IDR 17.676   -60,00   -0,34%
  • IDX 6.319   -52,18   -0,82%
  • KOMPAS100 832   -10,94   -1,30%
  • LQ45 631   -4,14   -0,65%
  • ISSI 225   -2,77   -1,22%
  • IDX30 360   -1,39   -0,38%
  • IDXHIDIV20 449   1,48   0,33%
  • IDX80 96   -1,08   -1,12%
  • IDXV30 124   -0,84   -0,68%
  • IDXQ30 118   0,53   0,46%

All Out Jaga Rupiah, BI Kerek BI Rate dan SRBI untuk Tarik Inflow Asing ke Pasar RI


Rabu, 20 Mei 2026 / 18:12 WIB
All Out Jaga Rupiah, BI Kerek BI Rate dan SRBI untuk Tarik Inflow Asing ke Pasar RI
ILUSTRASI. Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti (KONTAN/Nurtiandriyani Simamora)


Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Upaya Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan menarik aliran modal asing (capital inflow) ke pasar keuangan domestik ditempuh dengan menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate menjadi 5,25% dan mengerek suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) hingga di atas 6%.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti mengatakan langkah tersebut dilakukan di tengah tingginya tekanan global dan kondisi suku bunga tinggi dunia yang diperkirakan bertahan lebih lama atau higher for longer.

Menurut Destry, kenaikan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25% bertujuan menjaga daya tarik instrumen keuangan domestik agar tetap kompetitif dibandingkan instrumen keuangan negara lain.

“Tentu juga membuat instrumen keuangan yang kita miliki untuk portofolio itu menjadi lebih menarik lagi. Menjadi menarik karena dia bisa mendatangkan return yang tidak kalah dengan kalau ditempatkan di instrumen keuangan di negara lain,” ujar Destry dalam konferensi pers, Rabu (20/5/2026).

Baca Juga: Rupiah Terus Melemah, Ruang Penurunan Suku Bunga BI Makin Sempit

Sebelum menaikkan BI Rate, Bank Indonesia lebih dulu menaikkan suku bunga SRBI untuk menarik minat investor asing masuk ke pasar domestik. Pada 13 Mei 2026, BI menaikkan suku bunga SRBI menjadi 6,21% untuk tenor 6 bulan, 6,31% tenor 9 bulan, dan 6,45% tenor 12 bulan.

Destry mengatakan strategi tersebut mulai menunjukkan hasil. Sejak April hingga Mei 2026, arus modal asing mulai deras masuk ke instrumen SRBI dan kemudian diikuti aliran masuk ke Surat Berharga Negara (SBN).

“Sejak bulan April-Mei itu memang sudah inflow masuk sangat deras di SRBI, yang kemudian juga disusul oleh SBN,” katanya.

Bank Indonesia mencatat total dana asing yang masuk ke instrumen SRBI kini telah mencapai Rp 105 triliun.

Selain itu, berbagai respons kebijakan BI turut mendorong masuknya investasi portofolio asing pada kuartal II 2026. Hingga 18 Mei 2026, net inflow investasi portofolio asing tercatat mencapai US$ 5,5 miliar.

Aliran dana asing tersebut terutama ditopang oleh masuknya modal ke instrumen SRBI dan SBN seiring meningkatnya imbal hasil kedua instrumen tersebut.

Baca Juga: Kenaikan BI Rate Jadi 5,25% Tepat untuk Jaga Stabilitas Rupiah dan Ekonomi Domestik

Destry menjelaskan langkah tersebut diperlukan karena tekanan global terus meningkat sejak konflik di Timur Tengah memanas. Kondisi tersebut mendorong kenaikan yield obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor 10 tahun dari 3,9% menjadi 4,6%.

Menurutnya, kenaikan yield US Treasury menyebabkan premi risiko global meningkat sehingga negara berkembang termasuk Indonesia harus menjaga daya tarik aset keuangannya agar modal asing tetap masuk dan stabilitas pasar keuangan tetap terjaga.

“Ini situasi yang memang meningkat karena risk premium secara global juga meningkat,” ujarnya.

Selain untuk menarik inflow asing, kenaikan BI Rate dan suku bunga SRBI juga bertujuan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah serta mengantisipasi dampak rambatan global terhadap inflasi domestik.

Baca Juga: BREAKING NEWS: BI Kerek Suku Bunga 50 bps Jadi 5,25%

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Apa dampak bagi saya, jika saya...



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×