kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.673.000   -30.000   -1,11%
  • USD/IDR 17.822   -47,00   -0,26%
  • IDX 6.175   2,59   0,04%
  • KOMPAS100 810   -8,06   -0,99%
  • LQ45 611   -6,16   -1,00%
  • ISSI 213   1,48   0,70%
  • IDX30 345   -3,60   -1,03%
  • IDXHIDIV20 423   -3,92   -0,92%
  • IDX80 92   -1,12   -1,21%
  • IDXV30 114   -0,95   -0,83%
  • IDXQ30 110   -1,19   -1,07%

Alarm Perlambatan Ekonomi Menyala Setelah BI Rate Tembus 5,75%


Jumat, 19 Juni 2026 / 14:34 WIB
Alarm Perlambatan Ekonomi Menyala Setelah BI Rate Tembus 5,75%
ILUSTRASI. Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75% dalam Rap (AI/ChatGPT/Wahyu Tri Rahmawati)


Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) sebesar 100 basis poin (bps) sepanjang semester I-2026 diperkirakan akan menahan laju pertumbuhan ekonomi nasional pada paruh kedua tahun ini. 

Meski demikian, perlambatan yang terjadi diperkirakan berlangsung secara bertahap dan belum mengarah pada pelemahan ekonomi yang tajam.

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 lebih realistis berada di kisaran 5,0%-5,2%. 

Angka tersebut masih tergolong kuat, namun lebih rendah dibandingkan pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 yang mencapai 5,61% dan lebih sulit untuk memenuhi asumsi pertumbuhan dalam APBN 2026 sebesar 5,4%.

"BI sendiri masih menempatkan proyeksi pertumbuhan 2026 dalam kisaran 4,9%-5,7%, tetapi setelah kenaikan suku bunga yang agresif, risiko pertumbuhan kini lebih condong ke batas bawah kisaran tersebut," ujar Josua kepada Kontan.co.id, Jumat (19/6/2026).

Menurutnya, dampak kenaikan suku bunga tidak langsung terasa dalam waktu singkat. Transmisinya terjadi melalui kenaikan bunga kredit baru, pengetatan seleksi kredit oleh perbankan, pelemahan konsumsi barang tahan lama, hingga penundaan investasi swasta.

Baca Juga: BI Rate Bisa Naik Lagi, PermataBank: Risiko Global Picu Kenaikan Premi Risiko RI

Indikasi tersebut mulai terlihat dari data perbankan. Pada Mei 2026, rata-rata suku bunga kredit rupiah tercatat 8,72%, sedikit turun dari 8,73% pada April. Namun, suku bunga kredit baru meningkat cukup signifikan menjadi 9,31% dari sebelumnya 8,95%.

"Artinya, kredit lama belum sepenuhnya terdampak, tetapi debitur baru sudah mulai menghadapi biaya pinjaman yang lebih mahal. Efek ini biasanya lebih terasa pada semester II-2026 dan awal 2027," jelasnya.

Meski demikian, Josua menilai kondisi ekonomi Indonesia belum memasuki fase yang rapuh. Pertumbuhan kredit perbankan pada Mei 2026 masih mencapai 11,51%, meningkat dari 9,98% pada April. Kredit investasi tumbuh 21,95%, kredit modal kerja 8,09%, dan kredit konsumsi 5,89%.

Data tersebut menunjukkan dunia usaha masih melakukan ekspansi, terutama pada sektor investasi. Selain itu, dukungan likuiditas dari BI sebesar Rp 418,1 triliun juga dinilai membantu menjaga penyaluran kredit ke sektor-sektor prioritas.

Dari sisi konsumsi rumah tangga, sinyal yang muncul masih beragam. Survei Konsumen Mei 2026 menunjukkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) berada di level 120,9, sementara Indeks Ekspektasi Konsumen mencapai 129,7 dan Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini sebesar 112,2.

Meski masih berada pada zona optimistis, Josua mencatat tingkat keyakinan konsumen mulai menurun dibandingkan bulan sebelumnya. Sementara itu, penjualan eceran pada Mei 2026 diperkirakan masih terkontraksi 3,2% secara tahunan, meskipun membaik dari kontraksi 3,7% pada April 2026.

"Jadi, konsumsi masih menjadi penopang utama ekonomi, tetapi daya dorongnya mulai tidak sekuat awal tahun," katanya.

Baca Juga: BREAKING NEWS! BI Kerek Suku Bunga Acuan ke Level 5,75% pada RDG Juni 2026

Lebih lanjut, Josua menekankan bahwa kenaikan BI-Rate menjadi 5,75% perlu dipahami sebagai langkah stabilisasi nilai tukar rupiah dan pengendalian inflasi, bukan semata-mata untuk menekan permintaan domestik.

Menurutnya, tanpa stabilisasi rupiah, tekanan harga impor, energi, pangan, dan biaya produksi dapat meningkat sehingga berpotensi menggerus daya beli masyarakat lebih dalam.

"Kenaikan suku bunga memang menekan pertumbuhan dari sisi kredit, tetapi dapat menahan pelemahan ekonomi yang lebih besar melalui stabilisasi rupiah dan pengendalian inflasi," imbuh Josua.

Josua mengingatkan risiko perlambatan paling besar akan dirasakan sektor-sektor yang sensitif terhadap perubahan suku bunga, seperti properti, kendaraan bermotor, pembiayaan konsumen, perdagangan barang tahan lama, dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang bergantung pada kredit modal kerja.

Apabila bunga kredit baru terus meningkat, permintaan kredit pemilikan rumah (KPR), kredit kendaraan bermotor (KKB), dan kredit modal kerja berpotensi melemah. Kondisi tersebut dapat mengurangi kontribusi konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian nasional.

Baca Juga: BI Sudah Naikkan Suku Bunga 100 Bps Sepanjang 2026, Jaga Rupiah dan Tarik Modal Asing

"Karena itu, risiko terbesar bukan ekonomi langsung jatuh, tetapi pertumbuhan menjadi lebih sempit, hanya ditopang belanja pemerintah, komoditas, dan investasi tertentu, sementara konsumsi kelas menengah serta sektor padat karya melemah," katanya.

Di sisi eksternal, Josua menilai prospek pertumbuhan juga dibayangi ketidakpastian global. Bank sentral Amerika Serikat masih mempertahankan sikap moneter ketat dengan proyeksi inflasi 2026 sebesar 3,6% dan suku bunga acuan sekitar 3,8% pada akhir tahun.

Kondisi tersebut membuat dolar AS tetap kuat dan menjaga tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Dalam laporan "No Pause After the Surprise Hike", Bank Permata memperkirakan BI-Rate akan bertahan di level 5,75% hingga akhir 2026. 

Sementara itu, nilai tukar rupiah diproyeksikan berada di kisaran Rp 17.800-Rp 18.000 per dolar AS dan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun di kisaran 7,2%-7,4%.

Untuk menjaga momentum pertumbuhan, Josua merekomendasikan agar BI mempertahankan suku bunga di level saat ini selama rupiah tetap stabil dan inflasi terkendali. Kenaikan suku bunga tambahan sebaiknya hanya dilakukan apabila terjadi pelemahan rupiah yang tajam atau ekspektasi inflasi memburuk.

Di sisi fiskal, pemerintah dinilai perlu mempercepat belanja yang berdampak langsung terhadap daya beli masyarakat, menjaga stabilitas harga pangan dan energi, memperkuat program perlindungan sosial yang tepat sasaran, serta mendorong investasi padat karya.

Sementara itu, sektor perbankan diharapkan tetap menyalurkan kredit produktif, khususnya ke sektor pangan, industri pengolahan, ekspor, perumahan terjangkau, dan UMKM yang memiliki prospek usaha yang sehat.

Baca Juga: BI Rate Sudah Naik 100 Basis Poin Sepanjang 2026, Gubernur BI Beberkan Alasannya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×