kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.703.000   -30.000   -1,10%
  • USD/IDR 17.869   80,00   0,45%
  • IDX 6.172   -48,40   -0,78%
  • KOMPAS100 818   -6,94   -0,84%
  • LQ45 617   -8,31   -1,33%
  • ISSI 211   -1,14   -0,54%
  • IDX30 349   -5,96   -1,68%
  • IDXHIDIV20 427   -9,63   -2,21%
  • IDX80 93   -0,82   -0,87%
  • IDXV30 114   -1,07   -0,93%
  • IDXQ30 111   -2,80   -2,45%

BI Rate Sudah Naik 100 Basis Poin Sepanjang 2026, Gubernur BI Beberkan Alasannya


Kamis, 18 Juni 2026 / 16:18 WIB
BI Rate Sudah Naik 100 Basis Poin Sepanjang 2026, Gubernur BI Beberkan Alasannya
ILUSTRASI. Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo - RDG BI (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Bank Indonesia (BI) telah menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 100 basis poin (bps) sepanjang tahun 2026. Langkah agresif tersebut ditempuh untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tingginya ketidakpastian global dan derasnya tekanan eksternal.

Yang terbaru, Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada 17-18 Juni 2026 memutuskan menaikkan BI Rate sebesar 25 bps menjadi 5,75%. Dengan kenaikan ini, total kenaikan suku bunga acuan sepanjang tahun ini mencapai 100 bps, setelah sebelumnya BI menaikkan suku bunga masing-masing sebesar 25 bps dan 50 bps.

Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan, keputusan tersebut merupakan bagian dari penguatan respons kebijakan untuk menjaga stabilitas rupiah sekaligus mengantisipasi risiko inflasi ke depan.

"Kami menaikkan BI Rate 25 basis poin menjadi 5,75%. Ini merupakan langkah lanjutan untuk makin memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tetap tingginya ketidakpastian global, serta langkah pre-emptive untuk menjaga inflasi tahun 2026 dan 2027 tetap berada dalam sasaran," ujar Perry dalam konferensi pers hasil RDG BI, Kamis (18/6/2026).

Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75% dalam Rap

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menambahkan, fokus utama kebijakan moneter saat ini adalah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Menurutnya, kenaikan suku bunga telah terbukti menarik aliran modal asing masuk ke pasar keuangan domestik.

"Kalau kita lihat dalam satu tahun ini kami sudah menaikkan 100 basis poin. Tujuan utama kami adalah mendatangkan inflow, yaitu mendatangkan valuta asing," kata Destry dalam konferensi pers.

Ia mengungkapkan, strategi tersebut mulai menunjukkan hasil. Hingga 17 Juni 2026, pasar Surat Berharga Negara (SBN) mencatat aliran modal asing masuk (inflow) sebesar Rp 4,9 triliun. Sementara instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) mencatat inflow mencapai Rp 55,3 triliun.

Menurut Destry, masuknya dana asing tersebut memberikan tambahan pasokan devisa di pasar domestik sehingga membantu memperkuat nilai tukar rupiah.

"Artinya memang dengan inflow asing yang masuk cukup banyak tentunya ini akan memasok tambahan valuta asing di market kita dan itu menjawab mengapa rupiah dalam beberapa hari ini terjadi penguatan," ujarnya.

Baca Juga: Per 1 Juli 2026, Pembelian Valas Tanpa Underlying Jadi US$ 10.000 per Bulan

Selain untuk menjaga rupiah, keputusan BI juga dipengaruhi oleh arah kebijakan moneter global, khususnya Amerika Serikat. Perry mengungkapkan, meskipun Federal Reserve (The Fed) pada pertemuan terbarunya mempertahankan suku bunga Fed Funds Rate di level 3,75%, risiko kenaikan suku bunga ke depan masih terbuka seiring prospek inflasi AS yang meningkat.

Menurut Perry, tingginya yield obligasi pemerintah AS juga masih menjadi faktor yang menarik aliran modal global ke aset-aset dolar AS. Per 17 Juni 2026, yield US Treasury tenor 10 tahun tercatat sebesar 4,49%, sedangkan tenor 2 tahun berada di level 4,18%.

Di saat yang sama, indeks dolar AS terhadap mata uang negara maju maupun negara berkembang masih berada pada level yang kuat. Kondisi ini menyebabkan investor global cenderung menempatkan dana pada aset safe haven di negara maju, terutama Amerika Serikat, dibandingkan pasar negara berkembang.

"Suku bunga kebijakan moneter Amerika Serikat ke depan masih terdapat kemungkinan naik seiring dengan prospek inflasi yang lebih tinggi di Amerika Serikat. Karena itu kami perlu memperkuat respons kebijakan untuk menjaga stabilitas eksternal Indonesia," ujar Perry.

Bank sentral juga akan terus memperkuat berbagai instrumen untuk menjaga daya tarik aset keuangan domestik. Selain menaikkan BI Rate, BI mempertahankan struktur suku bunga SRBI pada tenor 6, 9, dan 12 bulan agar tetap kompetitif serta melanjutkan pemberian insentif swap lindung nilai bagi investor asing sebesar 10%.

Baca Juga: Prabowo Kumpulkan Bos-Bos Himbara, Ada Apa?

Langkah tersebut ditempuh di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi akibat konflik di Timur Tengah dan potensi perubahan arah kebijakan moneter global. BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia pada 2026 hanya sekitar 3%, sementara inflasi global meningkat menjadi 4,4%.

Perry optimistis kombinasi kebijakan moneter BI, sinergi dengan pemerintah, serta masuknya aliran modal asing akan menjaga stabilitas rupiah ke depan.

"Kami yakin aliran modal asing akan terus masuk, rupiah akan semakin stabil dan menguat ke depan," kata Perry.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight promo optimal Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×