kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.837.000   27.000   0,96%
  • USD/IDR 16.991   62,00   0,37%
  • IDX 7.097   -67,03   -0,94%
  • KOMPAS100 977   -12,33   -1,25%
  • LQ45 719   -12,76   -1,74%
  • ISSI 250   -1,82   -0,73%
  • IDX30 391   -7,50   -1,88%
  • IDXHIDIV20 489   -9,60   -1,93%
  • IDX80 110   -1,54   -1,38%
  • IDXV30 134   -2,11   -1,54%
  • IDXQ30 128   -2,18   -1,68%

Agar pertumbuhan ekonomi di atas 5%, pemerintah perlu lakukan ini


Sabtu, 12 Oktober 2019 / 04:00 WIB
Agar pertumbuhan ekonomi di atas 5%, pemerintah perlu lakukan ini


Reporter: Yusuf Imam Santoso | Editor: Noverius Laoli

Dalam FDI ada dua skema pertama Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN). Josua menilai, sekiranya pemerintah bisa mengejar PMDN untuk jangka pendek dengan cara memberi kejelasan atas arah kebijakan ekonomi yang lebih realistis.

Untuk hal birokrasi pun akan menjadi perhatian investor. Josua bilang kabinet baru akan menjadi salah satu pertimbangan, sebab bila berubah signifikan bisa memengaruhi kebijakan pemerintah selanjutnya.

Namun wacana Presiden RI Joko Widodo membuat Kementerian Investasi akan menjadi salah satu perhatiannya.  

Baca Juga: Bank Dunia turunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 5% di 2019

Jika pemerintah bisa memacu FDI setidaknya Josua optimistis investasi bisa tumbuh 5,5% atau lebih tinggi dari proyeksi Bank Dunia di level 5% pada akhir 2019.  Sedangkan untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia, proyeksi Bank Permata sebesar 5%-5,05%.

Sementara itu, alasan lain Bank Dunia memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi lantan kinerja ekspor Indonesia yang melandai dan impor yang tidak bisa terbendung. 

Menurut Josua untuk urusan ekspor-impor memang menjadi permasalahan dalam negeri. Josua menihat impor memang melambat tetapi kinerja ekspor masih tertekan.

Sentimen utamanya adalah perlambatan ekonomi global yang menggerus daya beli. Terlebih ekspor Indonesia masih berasal dari komoditas crude palm oil (CPO) dan batubata yang mulai kehilangan demand.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×