Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Di tengah tekanan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), pemerintah terus berupaya menjaga stabilitas pasar surat utang pemerintah
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa Kementerian Keuangan melalui Bond Stabilization Fund (BSF) telah menggelontorkan dana lebih dari Rp 8 triliun untuk melakukan intervensi di pasar Surat Berharga Negara (SBN).
Menurut Purbaya, langkah tersebut dilakukan untuk meredam gejolak yang berpotensi muncul di pasar SBN seiring meningkatnya ketidakpastian global dan tekanan terhadap aset keuangan domestik.
Baca Juga: IHCBS 2026 Angkat Experience Summit yang Lebih AI-Centric dan Interaktif
"Mungkin Rp 8 triliun lebih yang di obligasi ya. Sebenarnya enggak boleh diomongin, tapi enggak apa-apa biar Anda tahu saya intervensi sedikit," ujar Purbaya kepada awak media saat ditemui di Gedung Parlemen, Kamis (4/6).
Purbaya menilai intervensi tersebut telah memberikan dampak positif terhadap pasar obligasi pemerintah. Hal itu tercermin dari pergerakan imbal hasil (yield) SBN tenor 10 tahun yang masih terjaga stabil dan bahkan menunjukkan tren penurunan.
"Yield yang 10 tahun masih relatif stabil, cenderung turun. Jadi dampaknya ada ke surat utang kita," katanya.
Asal tahu saja, stabilitas yield SBN menjadi perhatian penting pemerintah karena kenaikan imbal hasil dapat meningkatkan biaya utang negara sekaligus menekan harga obligasi di pasar sekunder.
Pemerintah berharap kondisi pasar SBN tetap kondusif sehingga kebutuhan pembiayaan APBN dapat dipenuhi dengan biaya yang efisien, meskipun pasar keuangan global masih dibayangi ketidakpastian yang tinggi.
Baca Juga: Danantara Rilis Merah Putih Bond, Menkeu: WNI Diberi Insentif, Bukan Dipaksa Dibeli
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













