kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ451.010,90   -14,73   -1.44%
  • EMAS932.000 0,00%
  • RD.SAHAM -1.07%
  • RD.CAMPURAN -0.35%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.08%

88% Anak di Indonesia Punya Masalah Kesehatan Gigi, Kemenkes akan Aktifkan UKS


Kamis, 18 Agustus 2022 / 20:26 WIB
88% Anak di Indonesia Punya Masalah Kesehatan Gigi, Kemenkes akan Aktifkan UKS
ILUSTRASI. Menteri Kesehatan Budi Gunandi Sadikin melaporkan saat ini ada sekitar 88% anak anak di Indonesia memiliki masalah kesehatan gigi.KONTAN/Fransiskus SImbolon/


Reporter: Lailatul Anisah | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menteri Kesehatan Budi Gunandi Sadikin melaporkan saat ini ada sekitar 88% anak anak di Indonesia memiliki masalah kesehatan gigi.

Untuk itu untuk mengatasi masalah ini Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyiapkan program pemerintah untuk mengatasi masalah gigi anak-anak dengan mengaktifkan kembali Usaha Kesehatan Sekolah (UKS).

“Kita akan mengaktifkan kembali Usaha Kesehatan Sekolah. Nanti Puskesmas- Puskesmas dan Posyandu akan kita seringkan melakukan kunjungan ke sekolah-sekolah melalui unit kesehatan sekolah agar bisa melakukan pemeriksaan gigi ke anak-anak,” ucap Menkes Budi dalam keteranganya, Kamis (18/8).

Menkes Budi menilai pemeriksaan gigi dan mulut di sekolah penting dilakukan. Hal ini menjadi salah satu siasat agar anak-anak mau memeriksakan giginya.

Baca Juga: Sering Disepelekan, Ini 5 Kebiasaan yang Dapat Menyebabkan Kerusakan Gigi

Pasalnya, sejumlah masyarakat enggan memeriksakan gigi anaknya karena ada stigma yang berkembang.

Untuk itu Menkes Budi mengingatkan kepada para guru dan orang tua agar anak-anak mengurangi konsumsi makanan dan minuman yang manis, rajin menyikat gigi, dan rutin memeriksakan gigi setiap 6 bulan.

“Kesehatan gigi itu tidak boleh terlalu banyak makan dan minum yang manis-manis, sikat giginya mesti rajin, dan minimal periksa gigi setahun dua kali,” ujar Menkes Budi.

Ketua Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) Usman Sumantri, mengatakan beberapa alasan masyarakat tidak mau memeriksakan gigi ke dokter gigi adalah karena biaya mahal, takut suara bor gigi, dan karena kebiasaan keluarga yang tidak pernah membawa anaknya memeriksakan gigi ke dokter gigi.

“Padahal (pemeriksaan gigi) sudah ditanggung BPJS Kesehatan. Adanya pemeriksaan gigi dan mulut di sekolah menjadi salah satu solusi anak mau diperiksa giginya, dan orang tua harus mampu membiasakan pola hidup sehat pada anaknya,” ungkap Usman.

Dia menerangkan ada program dari PDGI bekerja sama dengan Devya Dental Clinic untuk pemeriksaan gigi dan mulut anak sekolah.

Bakti sosial ini dilakukan dalam rangka HUT RI ke-77 dengan tema ‘Bangkitkan Senyum Anak Negeri.’ Kegiatan dilakukan dalam bentuk penyuluhan, pemeriksaan, dan tindakan pengobatan yang dilakukan secara gratis bagi anak-anak sekolah dasar yang kurang mampu.

Baca Juga: Punya Problem Gigi Kuning? Ketahui Cara Memutihkan Gigi secara Alami Berikut Ini!

Bakti sosial ini bertujuan untuk memberikan edukasi serta membangkitkan kepedulian masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut khususnya untuk anak – anak.

PDGI bersama Devya Dental Clinic juga melakukan pemeriksaan gigi dan mulut di banyak wilayah dengan total sekitar 3.538 anak sekolah dengan melibatkan 334 dokter gigi setempat, antara lain Bogor, Semarang, Makassar, Kalimantan Tengah, Sinjai, Padang Kota, Payakumbuh, Palu, Medan, dan Manado. Untuk daerah lain masih dalam proses.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU

[X]
×