| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.368
  • SUN97,14 0,42%
  • EMAS606.004 0,00%
  • RD.SAHAM 0.66%
  • RD.CAMPURAN 0.16%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%

CIPS: RUU Minol berisiko tinggi bagi publik

Rabu, 15 Juni 2016 / 13:53 WIB

CIPS: RUU Minol berisiko tinggi bagi publik

JAKARTA. Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) masih terus membahas Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Minuman Beralkohol. RUU yang kerap dikenal dengan RUU Minol ini memang mendatangkan polemik baru di industri minuman beralkohol.

Tidak hanya itu, RUU Minol juga disinyalir akan berdampak bagi kehidupan sosial. Riset yang dilakukan oleh Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) menunjukkan terdapat korelasi yang kuat antara korban minuman alkohol oplosan dengan daerah yang melarang penjualan minuman beralkohol legal.  

Hasil riset mencatat, setidaknya dari total korban alkohol oplosan sejak tahun 2013, 83% korban datang dari kabupaten/kota di Pulau Jawa yang melarang penjualan dan konsumsi alkohol secara total maupun parsial. Sementara, berdasarkan laporan media, setidaknya terdapat 629 korban di Pulau Jawa yang meninggal akibat meminum alkohol ilegal (oplosan) sejak tahun 2013.

Dari data tersebut, CIPS berkesimpulan, apabila RUU Larangan Minuman Beralkohol disahkan, maka akan menimbulkan risiko tinggi bagi kesehatan dan perlindungan publik.

Itu sebabnya, “Pelarangan minuman beralkohol bukanlah prioritas,” menurut Peneliti CIPS Rofi Uddarojat.

Dia menambahkan, kalaupun harus diatur, RUU ini seharusnya fokus pada upaya pemberantasan alkohol oplosan yang terbukti berbahaya, termasuk meregulasi produsen minuman beralkohol tradisional. "RUU ini perlu memprioritaskan standarisasi kualitas produksi dan pengawasan produsen minuman beralkohol secara ketat sehingga produk mereka aman bagi konsumen,” jelasnya.

Menurut studi ini, pelarangan alkohol tidak bisa menghilangkan permintaan. Konsumen justru akan dipaksa untuk mengonsumsi minuman alkohol di pasar gelap, yang kemungkinan besar mengandung zat berbahaya dan mematikan.

“Alkohol oplosan seringkali diproduksi oleh sindikat kriminal,” jelas Rofi. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, masyarakat Indonesia hanya mengonsumsi lima kali alkohol oplosan (0,5 liter per kapita) dibandingkan minuman beralkohol legal (0,1 liter per kapita).

Penelitian ini juga mencatat studi kasus dari negara-negara lain, seperti studi dari University of Nottingham yang menemukan bahwa pelarangan alkohol di India tidak mengurangi konsumsi alkohol ilegal. Pengalaman di Amerika Serikat selama pelarangan alkohol era 1930-an juga membuktikan kenaikan tajam atas munculnya organisasi kriminal.

 


Reporter: Barratut Taqiyyah
Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

POLEMIK RUU MINOL

Tag
Komentar
TERBARU
KONTAN TV
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0004 || diagnostic_api_kanan = 0.0805 || diagnostic_web = 0.2829

Close [X]
×