NASIONAL
Berita
BPN desak pemda buat perda ulayat

Tanah adat

BPN desak pemda buat perda ulayat


Telah dibaca sebanyak 1214 kali

JAKARTA. Badan Pertanahan Negara (BPN) mendesak pemerintah daerah mengakomodasi keberadaan tanah ulayat lewat peraturan daerah (perda), sehingga bisa meredam konflik tanah. Hal ini sekaligus untuk menindaklanjuti putusan Mahkamah Konstitusi (MK), Kamis (16/5) lalu.

MK mengabulkan uji materi UU No. 41/1999 tentang Kehutanan yang diajukan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN). Direktur Pengaturan dan Pengadaan Tanah Instansi Pemerintah BPN Noor Marzuki mengatakan, pemda harus aktif bergerak ke pelosok daerah mendata kepemilikan tanah ulayat lantas mengukuhkan dalam perda ulayat. "Ini juga merupakan amanat UU Pokok-Pokok Agraria dan Permen Agraria No. 5/1999," katanya kepada KONTAN pekan lalu.

Sekadar informasi, dalam putusan MK, hakim menyatakan hutan negara dan hutan adat harus memiliki perbedaan perlakuan. Putusan MK ini membatalkan sejumlah frasa dan ayat dalam pasal 1 angka 6, Pasal 5 ayat 1, 2, dan 3 dalam UU Kehutanan.

Konsekuensi putusan MK  itu adalah hutan yang menjadi tanah ulayat atau tanah hutan yang sudah menjadi milik orang tapi belum diusahakan  bisa dikelola masyarakat setempat. Dalam tanah ulayat juga terdapat hak ulayat, yaitu hak yang dimiliki suatu masyarakat hukum adat untuk menguasai tanah beserta semua isinya.

Menurut Noor, kepala daerah harus segera membuat tim yang terdiri dari unsur pemerintah, tokoh adat, tokoh masyarakat, dan unsur universitas untuk memastikan keberadaan tanah ulayat. Tim ini juga akan memastikan tiga aspek sebelum menetapkan perda tanah ulayat.
Pertama, memastikan keberadaan masyarakat adat. Kedua, memastikan keberadaan ketentuan atau peraturan adat. Ketiga, memastikan keberadaan wilayah adat baik yang bersifat individual maupun kolektif.

Tapi, Sekretaris Jenderal Aliansi AMAN Abdon Nababan menilai, pemerintah harus mengeluarkan dasar hukum yang lebih kuat dari sekadar perda, tapi instruksi presiden (Inpres). "Perda tidak efektif," tegasnya.

Abdon bilang, presiden harus mengeluarkan Inpres untuk menunjuk Kementerian Kehutanan atau BPN untuk melakukan verifikasi kepemilikan tanah adat. "Jika sekadar diakui saja, maka konflik lahan terus terjadi," ujarnya.

Editor: Dadan Ramdan
Telah dibaca sebanyak 1214 kali



Syarat & Ketentuan Komentar :
  1. Tidak memuat isi bohong, fitnah, sadis dan cabul.
  2. Tidak memuat isi yang mengandung prasangka dan kebencian terkait dengan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), serta menganjurkan tindakan kekerasan.
  3. Tidak memuat isi diskriminatif atas dasar perbedaan jenis kelamin dan bahasa, serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa, atau cacat jasmani.
  4. KONTAN memiliki kewenangan mutlak untuk mengedit atau menghapus komentar yang bertentangan dengan ketentuan ini.

LIPSUS

LIPSUS Update

  • Peringatan Hari Nusantara di Lampulo Aceh 13 Desember

    +

    Rencananya acara akan berlangsung pada 13 Desember 2015 di Pelabuhan Lampulo, Banda Aceh. Rangkaian kegiatan pengisi acaranya meliputi beberapa seminar seperti Peringatan Hari Kelautan Dunia (World Ocean Day)

    Baca lebih detail..

  • Bon Jovi Live Concert 11 September

    +

    Penantian 20 tahun penggemarnya di Indonesia akan terjawab dalam konser yang akan berlangsung 11 September 2015

    Baca lebih detail..

    A PHP Error was encountered

    Severity: Notice

    Message: Undefined variable: berita

    Filename: all_kanal/list_berita.php

    Line Number: 2

    A PHP Error was encountered

    Severity: Warning

    Message: Invalid argument supplied for foreach()

    Filename: all_kanal/list_berita.php

    Line Number: 2