kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Tugas utama menteri ekonomi Jokowi-Ma'ruf Amin memperbaiki defisit neraca dagang


Selasa, 22 Oktober 2019 / 20:37 WIB
Tugas utama menteri ekonomi Jokowi-Ma'ruf Amin memperbaiki defisit neraca dagang
ILUSTRASI. Sri Mulyani Indrawati meninggalkan Kompleks Istana Kepresidenan di Jakarta, Selasa (22/10/2019).

Reporter: Yusuf Imam Santoso | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Presiden Joko Widodo telah memanggil sejumlah nama menteri lama ke Istana. Sebut saja, Sri Mulyani Indrawati dan Bambang Brodjonegoro yang diramal bakal menduduki posisi yang sama seperti periode pertama Jokowi.

Ekonom Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih mengatakan, bila menteri ekonomi sebelumnya kembali menjabat diposisi yang sama diharapkan dapat memperbaiki current account deficit (CAD) yang menjadi problematika selama ini.

Baca Juga: Sri Mulyani jadi Menkeu, wacana badan penerimaan pajak diprediksi sulit terbentuk

“Karena sudah ada di kabinet pertama, sekarang ini seharusnya hanya sebagai eksekusi . Tetapi memperbaiki CAD memang tidak bisa dalam jangka waktu pendek,” kata Lana kepada Kontan.co.id, Selasa (22/10).

Lana menilai dari keempat komponen CAD yakni neraca barang, neraca jasa, pendapatan primer, dan pendapatan sekunder perlu diperbaiki satu per satu. Dari sisi neraca jasa, selalu negatif sepanjang tahun yang terikat akibat terbawanya devisa ke luar negeri.

Secara struktural diharapkan jajaran menteri ekonomi baru dapat memperbaiki struktur neraca jasa yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan seperti perusahaan asuransi serta pelayaran.

Dari sisi neraca barang, Lana menyoroti kinerja ekspor dan impor harus berjalan seimbang. Saat ini ekspor Indonesia kebanyakan dari industri komoditas, Jokowi dalam pidatonya Minggu (20/10) menyatakan akan meningkatkan industri manufaktur.

Baca Juga: Ini dua pekerjaan besar menteri kabinet Jokowi-Ma'ruf Amin

Lana memandang untuk mengalihkan orientasi ekspor ke manufaktur, pemerintahan baru perlu menggenjot bahan baku yang mana selama ini masih mengandalkan impor. Sehingga, pemerintah perlu bergegas mendirikan dan mengoptimalisasi bahan baku manufaktur dalam negeri.

“Selama ini, bahan baku industri sepatu dan farmasi kebanyakan impor, kita harus perkuat produksi dalam negeri,” kata Lana kepada Kontan.co.id, Selasa (22/10).




TERBARU

×