kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45979,15   -10,44   -1.05%
  • EMAS999.000 0,10%
  • RD.SAHAM -0.07%
  • RD.CAMPURAN 0.04%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.07%

Transmisi Lokal Covid-19 Omicron Makin Banyak, Ini Himbauan Kemenkes


Rabu, 26 Januari 2022 / 06:58 WIB
Transmisi Lokal Covid-19 Omicron Makin Banyak, Ini Himbauan Kemenkes
ILUSTRASI. Transmisi Lokal Covid-19 Omicron Makin Banyak, Ini Himbauan Kemenkes


Sumber: Kementerian Kesehatan RI,Kompas.com | Editor: Adi Wikanto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Jumlah kasus Covid-19 Omicron di Indonesia akibat transmisi atau penularan lokal semakin besar. Simak himbauan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk mencegah Covid-19 Omicron beserta gejala yang harus diwaspadai.

Berdasarkan data terakhir yang dihimpun Kemenkes menunjukkan kasus konfirmasi Covid-19 Omicron di Indonesia sebanyak 1.626 kasus. 20 pasien di antaranya menjalani perawatan di rumah sakit dan 2 pasien meninggal dunia.

Berdasarkan data New All Record Kementerian Kesehatan tanggal 1-22 Januari 2022 Jumlah kasus konfirmasi nasional terus meningkat dalam 4 minggu terakhir. Proporsi kasus didominasi transmisi lokal, tidak lagi oleh pelaku perjalanan luar negeri (PPLN).

Pada 22 Januari 2022 sebanyak 90,1% kasus konfirmasi Covid-19 Omicron Indonesia merupakan transmisi lokal. “Yang perlu kita lakukan yang pertama adalah kita tidak perlu panik tapi harus terus waspada dan hati-hati karena memang laju penularannya tinggi. Kita perlu, memastikan protokol kesehatan tetap berjalan, memakai masker, mencuci tangan, dan mengurangi kerumunan,” kata Menkes Budi Gunadi Sadikin dikutip dari laman Sehat Negeriku yang dikelola Kemenkes.

Untuk memaksimalkan protokol kesehatan, data PeduliLindungi boleh dibuka publik sehingga masyarakat bisa melihat lokasi-lokasi mana yang menerapkan disiplin protokol kesehatan. Hal ini dapat membantu mengontrol penggunaan PeduliLindungi di fasiltas publik maupun di kantor.

Baca Juga: Luhut: Gejala Omicron Sulit Dibedakan, Segera Testing Bila Alami Flu Meski Ringan

Di samping itu, pemerintah juga terus gencarkan pelaksanaan surveilans. Karena jumlah kasus Covid-19 Omicron Indonesia semakin banyak maka tidak semuanya menggunakan metode genome sequencing. Pasalnya metode genome sequencing akan lebih diarahkan untuk menganalisa pola penyebaran kasus Covid-19 Omicron Indonesia .

“Untuk tracing kasus kita akan menggunakan PCR yang lebih cepat dengan SGTF yang bisa mendeteksi Omicron. SGTF sudah kita distribusikan dan akan segera kita tambah untuk didistribusikan ke daerah,” ucap Menkes Budi.

Upaya tersebut harus didukung dengan vaksinasi. Pemerintah akan mempercepat pelaksanaan vaksinasi terutama untuk Lansia.

“Kami juga tekan kan karena paling banyak kasus Omicron terjadi di DKI Jakarta dan Jabodetabek, maka dalam 23 minggu ke depan kita akan mempercepat vaksinasi di sana,” tutur Menkes Budi.

Sejalan dengan Menkes, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan kasus Covid-19 Omicron Indonesia yang disebabkan oleh para pelaku perjalanan luar negeri sudah berada di bawah 10% dari total kasus nasional. Dari sini dapat disimpulkan bahwa transmisi lokal yang terjadi di Indonesia sudah lebih mendominasi dibandingkan waktu sebelumnya.

Data dari berbagai negara hari ini bahwa Covid-19 Omicron Indonesia menunjukkan risiko perawatan dan juga tingkat kematian yang cukup rendah, namun memiliki kecepatan penularan yang tinggi yang menyebabkan jumlah kasus harian meningkat tajam dan berpotensi untuk meningkatkan jumlah perawatan di rumah sakit dalam waktu dekat.

“Dalam seminggu terakhir ini kasus harian terus mengalami peningkatan. Berdasarkan data yang kami himpun kasus di Jawa – Bali kami identifikasi bersumber dari peningkatan pada wilayah aglomerasi Jabodetabek,” katanya dalam konferensi pers secara virtual, Senin (24/1).

Gejala Covid-19 Omicron di Indonesia

 

Dilansir dari Kompas.com, Dokter Spesialis Paru Konsultan, Erlina Burhan mengungkapkan gejala khas Covid-19 Omicron di Indonesia yang membedakannya dari penyakit lain. Dipaparkan dalam diskusi daring bertajuk "Super Immunity on Covid-19 : What and How?", Sabtu (22/1/2022).

 

Erlina berkata gejala-gejala khas Covid-19 Omicron di Indonesia antara lain:

  • Hidung tersumbat atau rinore
  • Batuk
  • Nyeri tenggorokan
  • Tenggorokan gatal

"Jadi gejala klinis yang khas dan terbanyak dari infeksi Omicron ini adalah hidung tersumbat atau rinore, dan gejala khas lainnya adalah batuk, nyeri tenggorok, terutama tenggorokan gatal," kata dia.

Baca Juga: UPDATE Corona Indonesia, 24 Januari 2022: Tambah 2.927 Kasus Baru, Jangan Lengah!

Gejala Covid-19 Omicron di Indonesia lainnya lagi yang cukup sering tapi tidak khas dialami pasien Omicron adalah mudah lelah, sakit kepala, dan nyeri otot. Dengan indikasi gejala-gejala ringan yang hampir menyerupai sakit flu ini, Erlina mengingatkan agar petugas kesehatan lebih memperhatikan lagi perbedaannya.

"Tolong dicermati ini, gejala yang khas (infeksi Omicron). Memang sedikit mirip dengan flu, tapi flu itu jarang loh nyeri tenggorok dan jarang tenggorokan gatal," jelasnya.

"Flu biasanya pilek yang disertai batuk," tambahnya.

Omicron menyerang bronkus

Berdasarkan data laporan CDC dari 43 kasus infeksi Omicron di Amerika Serikat bulan Desember 2021, gejala Covid-19 Omicron yang paling sering dilaporkan adalah sebagai berikut:

  • Batuk, 89%
  • Fatigue (kelelahan), 65%
  • Hidung tersumbat atau rinore, 59%
  • Demam, 38%
  • Mual atau muntah, 22%
  • Sesak napas, 16%
  • Diare, 11%
  • Anosmia atau ageusia, 8%

Gejala Covid-19 Omicron di Indonesia yang mirip flu ini sangat mungkin terjadi karena varian Omicron lebih menyerang bronkus daripada paru-paru. Diungkapkan oleh Erlina, sebuah studi dari HKUMed Hong Kong membandingkan nilai TCID50 di bronkus dan paru akibat infeksi varian Omicron, Delta, atau virus corona varian awal yang ditemukan pertama kali di Wuhan, China.

Untuk diketahui, TCID50 adalah media tissue culture infectious dose yang menandakan titer atau banyaknya virus di jaringan. Hasil studi itu menunjukkan, untuk di bronkus, varian Omicron memiliki laju infeksi dan replikasi 70 kali lebih tinggi dari varian Delta dan varian awal.

Akan tetapi di paru, laju infeksi dan replikasi varian Omicron 10 kali lebih rendah dari varian awal. "Jadi lebih banyak bereplikasi dan berkembangbiaknya dia (Omicron) hingga keterlibatan peradangannya lebih banyak terjadi di bronkus untuk Omicron dibandingkan varian Delta atau varian dari Wuhan," kata Erlina.

Padahal, bronkus adalah cabang batang tenggorokan yang terletak setelah tenggorokan (trachea) sebelum paru-paru. Bagian ini merupakan saluran udara yang memastikan udara masuk dengan baik dari trakea ke alveolus. Selain sebagai jalur masuk dan keluarnya udara, bronkus juga berfungsi untuk mencegah infeksi. "Inilah kenapa gejala-gejala dari infeksi Omicron itu banyaknya adalah yang berurusan dengan saluran napas," tambah Erlina.

 

Demikian perkembangan kasus Covid-19 Omicron di Indonesia beserta gejala dan cara mencegahnya. Mari patuhi protokol kesehatan dan segera mendapatkan vaksin untuk mengurangi risiko penularan Covid-19.

#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #jagajarakhindarikerumunan #cucitangan #cucitanganpakaisabun

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU

[X]
×