kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.652.000   21.000   0,80%
  • USD/IDR 16.893   23,00   0,14%
  • IDX 8.885   -0,10   0,00%
  • KOMPAS100 1.232   5,72   0,47%
  • LQ45 874   7,20   0,83%
  • ISSI 324   0,25   0,08%
  • IDX30 446   5,56   1,26%
  • IDXHIDIV20 530   9,50   1,83%
  • IDX80 137   0,76   0,56%
  • IDXV30 146   2,23   1,55%
  • IDXQ30 143   1,91   1,35%

Tak Hanya Rem Permintaan, Ini Langkah Lain BI dalam Menjaga Inflasi


Rabu, 02 November 2022 / 15:41 WIB
Tak Hanya Rem Permintaan, Ini Langkah Lain BI dalam Menjaga Inflasi
ILUSTRASI. Logo Bank Indonesia. REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana


Reporter: Bidara Pink | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Indonesia (BI) terus berupaya menjalankan mandatnya untuk menjangkar inflasi dalam negeri untuk tidak bergerak liar. Terlebih di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi. 

Direktur Eksekutif, Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono mengungkapkan, langkah BI untuk menjangkar inflasi dan ekspektasi inflasi adalah dengan kebijakan suku bunga acuan. Langkah ini akan menjaga inflasi dari sisi permintaan. 

Selain itu, BI juga bahu membahu dengan pemerintah untuk menjaga inflasi dari sisi suplai. Dalam hal ini, BI berkoordinasi dengan otoritas terkait untuk menjaga khususnya inflasi pangan. 

Selain kebijakan-kebijakan tersebut, BI juga mengerahkan tenaga untuk menjaga imported inflation. Imported inflation ini merupakan inflasi karena perubahan harga atau pergerakan nilai tukar sehingga menyebabkan kenaikan harga impor yang mendorong kenaikan harga barang dan jasa. 

Baca Juga: BI: Kenaikan Suku Bunga Acuan Tak Hanya untuk Menjangkar Ekspektasi Inflasi

“Salah satu hal yang kami lakukan adalah dengan menjaga kestabilan rupiah. Depresiasi mata uang kuat, imported inflation jangan sampai ketinggian,” terang Erwin saat ditemui Kontan.co.id, Selasa (1/11) di kawasan Jakarta Selatan. 

Kebijakan menjaga nilai tukar rupiah sudah dilakukan oleh BI, seperti triple intervention, operation twist, dan bahkan kebijakan suku bunga pun diharapkan juga mampu menjaga pergerakan nilai tukar rupiah di tengah penguatan dolar AS. 

Bila mengutip pernyataan Gubernur BI Perry Warjiyo dalam Rapat Dewan Gubernur BI bulan lalu, Perry menyebut indeks nilai tukar dolar AS terhadap mata uang utama (DXY) mencapai level tertingginya 114,76 pada 28 September 2022. Per 19 Oktober 2022, indeks ini menurun tetapi masih tinggi di level 112,98 dan menguat 18,01% dari awal tahun alias year to date (YtD). 

Nilai tukar rupiah juga masih melempem. Hitungan BI, rupiah hingga 19 Oktober 2022 sudah melemah 8,03% YtD. 

Namun, dengan langkah yang sudah dilakukan oleh BI, nilai tukar rupiah tak jatuh terlalu dalam. Pasalnya, bila dibandingkan dengan kenaikan DXY, pelemahan rupiah ini lebih rendah. Pun bila dibandingkan dengan pelemahan nilai tukar negara lain, Indonesia masih cukup landai. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Mastering Management and Strategic Leadership (MiniMBA 2026) Global Finance 2026

[X]
×