kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.580.000   6.000   0,23%
  • USD/IDR 17.928   15,00   0,08%
  • IDX 6.119   81,97   1,36%
  • KOMPAS100 788   11,28   1,45%
  • LQ45 603   7,78   1,31%
  • ISSI 213   2,98   1,42%
  • IDX30 336   5,02   1,52%
  • IDXHIDIV20 429   6,53   1,54%
  • IDX80 90   1,23   1,39%
  • IDXV30 116   1,54   1,34%
  • IDXQ30 110   1,55   1,44%

Surplus neraca dagang diprediksi menyusut di semester II 2021, ini penyebabnya


Kamis, 15 Juli 2021 / 18:54 WIB
ILUSTRASI. Suasana bongkar muat di Jakarta International Container Terminal (JICT), Jakarta, Rabu (16/6). Surplus neraca dagang diprediksi menyusut di semester II 2021, ini penyebabnya.


Reporter: Bidara Pink | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Neraca perdagangan Indonesia kembali untung pada Juni 2021. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, surplus neraca perdagangan pada bulan tersebut sebesar US$ 1,32 miliar. 

Dengan demikian, neraca perdagangan Indonesia di sepanjang semester I-2021 ini masih mencetak surplus sebesar US$ 11,86 miliar setelah selama enam bulan berturut-turut neraca perdagangan selalu positif. 

Untuk ke depannya, Ekonom Bank Mandiri Faisal Rachman melihat, surplus neraca perdagangan akan berkurang pada semester II-2021, khususnya di kuartal IV-2021. 

“Hal ini seiring dengan pemulihan ekonomi dan akselerasi vaksinasi Covid-19 yang mendorong membaiknya mobilitas masyarakat,” ujar Faisal kepada Kontan.co.id, Kamis (15/7). 

Baca Juga: Impor Juni 2021 meroket, tertinggi sejak Oktober 2018

Pun, sebenarnya ini sudah terlihat di akhir semester I-2021, di mana impor barang konsumsi meningkat di kisaran 16,92% mom, kemudian impor bahan baku naik 19,15% mom, dan impor barang modal naik 35,02% mom yang mengindikasikan kegiatan ekonomi bergerak. 

Akan tetapi, Faisal mengaku pemulihan ekonomi akan lebih lambat dari perkiraan semula, karena adanya peningkatan kasus harian Covid-19 yang membuat pemerintah memutuskan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM). 

Faisal memperkirakan, adanya PPKM ini akan membuat kinerja impor lesu pada kuartal III-2021. Pasalnya, pengetatan larangan mobilitas ini menurunkan daya beli dan kegiatan investasi, sehingga bisa membatasi kegiatan impor baik bahan baku, barang modal, maupun barang konsumsi. 

Baca Juga: Indonesia berupaya dapatkan suplai vaksin mRNA untuk lawan Covid-19 jenis delta




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×