kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.602.000   25.000   0,97%
  • USD/IDR 16.846   28,00   0,17%
  • IDX 8.937   11,28   0,13%
  • KOMPAS100 1.229   2,00   0,16%
  • LQ45 868   0,40   0,05%
  • ISSI 324   0,94   0,29%
  • IDX30 440   -0,98   -0,22%
  • IDXHIDIV20 517   -1,78   -0,34%
  • IDX80 137   0,24   0,18%
  • IDXV30 144   -0,01   0,00%
  • IDXQ30 140   -0,81   -0,58%

Suntikan Dana Rp 200 Triliun ke Bank Himbara, Berikut Catatan Ekonom Prasasti


Rabu, 24 September 2025 / 16:35 WIB
Suntikan Dana Rp 200 Triliun ke Bank Himbara, Berikut Catatan Ekonom Prasasti
ILUSTRASI. Laporan APBN Kita Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa saat jumpa pers Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Kita di Jakarta, Senin (22/9/2025). Kementerian Keuangan mencatat defisit APBN 2025 Rp 321,6 triliun atau 1,35% dari PDB per 31 Agustus 2025. Posisi defisit ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, sebesar 0,69% atau Rp 153,4 triliun. Sasaran defisit RI pada tahun ini sebenarnya mencapai 2,78%. Adapun, keseimbangan primer mencapai Rp 22 triliun hingga 31 Agustus 2025. KONTAN/Cheppy A. Muchlis/22/09/2025


Reporter: Yudho Winarto | Editor: Yudho Winarto

Menurut Gundy Cahyadi, Research Director Prasasti kombinasi stimulus likuiditas dan fiskal lebih langsung dibutuhkan.

“Likuiditas bisa disediakan, tetapi tidak serta-merta membangkitkan semangat usaha. Dibutuhkan penguatan daya beli rumah tangga dan kepercayaan bisnis. Pendekatan strategis adalah mengombinasikan keringanan likuiditas dengan langkah fiskal langsung,” ujarnya.

Pemerintah sebelumnya telah meluncurkan paket kebijakan ekonomi “8+4+5” senilai Rp16,2 triliun pada 15 September 2025.

Program ini menargetkan penciptaan tiga juta lapangan kerja melalui kombinasi stimulus jangka pendek seperti bantuan beras, insentif pajak, dan padat karya, serta inisiatif jangka panjang di sektor koperasi, perkebunan, perikanan, dan akuakultur.

“Fokus paket ini pada konsumsi sekaligus produktivitas patut diapresiasi. Dorongan daya beli melalui bantuan langsung dibarengi program riil jangka panjang. Tantangannya pada implementasi. Bila konsisten, paket ini bisa menjadi katalis nyata pertumbuhan,” tambah Gundy.

Baca Juga: Komisi XI DPR Menilai Suntikan Dana Rp 200 Triliun ke Bank Himbara Jadi Beban

Ia menegaskan pentingnya kebijakan fiskal yang counter-cyclical di tengah lemahnya permintaan swasta.

“Komitmen Menteri Purbaya membentuk satuan tugas khusus untuk mempercepat belanja adalah langkah tepat. Kini yang terpenting adalah memastikan realisasi berjalan seiring janji,” tuturnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU

[X]
×