Reporter: Nina Dwiantika | Editor: Nina Dwiantika
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Indonesia (BI) menilai gejolak geopolitik global, terutama di Timur Tengah, masih menjadi risiko utama bagi stabilitas pasar keuangan domestik. Untuk meredam tekanan terhadap rupiah, bank sentral menyesuaikan struktur suku bunga pasar melalui kenaikan imbal hasil instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, langkah tersebut ditempuh agar aset keuangan domestik tetap kompetitif di tengah meningkatnya ketidakpastian global. “Strategi ini dilakukan untuk menjaga daya tarik aset domestik dan mendukung stabilitas nilai tukar,” ujar Perry dalam pertemuan dengan investor di Singapura, dikutip Minggu (3/5).
Perry menjelaskan, BI kini mengandalkan bauran kebijakan moneter terintegrasi yang mencakup tiga instrumen utama, yakni suku bunga acuan untuk menjaga inflasi dan rupiah, intervensi di pasar valas untuk menahan volatilitas kurs, serta pengelolaan likuiditas guna memastikan kecukupan dana di sistem keuangan.
Baca Juga: Defisit APBN Kuartal I-2026 Capai 0,93% PDB, Alarm Fiskal Mulai Menyala
Selain itu, BI mengklaim koordinasi dengan pemerintah akan menjadi penopang ketahanan ekonomi tahun depan. Bank sentral memperkirakan inflasi 2026 tetap berada di kisaran sasaran 2,5% plus minus 1%, sementara pertumbuhan ekonomi diproyeksikan berada di rentang 4,9% hingga 5,7%.
Namun, proyeksi tersebut tetap menghadapi tantangan, terutama jika tensi geopolitik mendorong harga energi naik dan memperbesar tekanan impor.
Kedepan, BI akan terus menjaga stabilitas sebagai prioritas utama dengan tetap mendukung pertumbuhan ekonomi melalui pendekatan yang data dependent dan forward looking.
Baca Juga: Kemendag Batasi Impor Pangan, Harga Domestik Berpotensi Naik
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













