kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.740.000   15.000   0,55%
  • USD/IDR 17.708   -71,00   -0,40%
  • IDX 6.526   24,10   0,37%
  • KOMPAS100 849   6,96   0,83%
  • LQ45 645   5,86   0,92%
  • ISSI 228   -0,31   -0,14%
  • IDX30 360   3,72   1,04%
  • IDXHIDIV20 437   4,19   0,97%
  • IDX80 97   0,82   0,85%
  • IDXV30 121   0,51   0,43%
  • IDXQ30 114   1,21   1,07%

Situasi Ekonomi AS, China, dan Negara Berkembang Lainnya Pengaruhi Investor Masuk RI


Minggu, 13 Februari 2022 / 17:27 WIB
ILUSTRASI. Aktivitas perekonomian RI


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Chief Economist di Citi Indonesia Helmi Arman mengatakan, investasi asing yang masuk ke Indonesia akan dipengaruhi oleh sejumlah faktor. Paling dominan adalah situasi ekonomi Amerika Serikat, China dan sejumlah negara berkembang.

Menurutnya, ketidakpastian di Amerika, seperti menyangkut suku bunga Bank Sentral AS atau tingkat inflasi, menjadi faktor penentu bagi investor. Jika peningkatan suku bunga cepat, maka investasi ke negara berkembang seperti Indonesia menjadi kurang menarik.

“Dari sisi inflasi, salah satu faktor penting yang akan menentukan kapan puncak inflasi AS adalah tren harga komoditas energi dunia. Di kuartal kedua tahun ini, tekanan terhadap harga minyak mentah dunia mungkin akan mulai mereda seiring adanya suplai tambahan dari beberapa negara penghasil minyak,” tutur Helmi dalam bincang bersama media, dikutip pada Minggu (13/2).

Baca Juga: Bank Dunia ganti EoDB menjadi Business Enabling Environment, Ini Indikatornya

Dengan asumsi tersebut, ketegangan politik dunia mulai menurun. Selain itu, apabila harga komoditas energi dunia mulai turun, maka ekspektasi penguatan dollar semestinya akan mulai mereda, dan mungkin investor global akan kembali mulai melirik untuk memasukkan dana ke negara-negara berkembang.

Faktor lain yang akan mempengaruhi pergerakan arus dana asing ke negara-negara berkembang adalah pertumbuhan ekonomi di China. Helmi berharap pergerakan ekonomi di sana akan mencapai titik terendahnya dan mulai stabil.

“Sektor properti di China sedang mengalami penurunan yang cukup signifikan. Ini terjadi setelah bertahun-tahun tumbuh dengan pesat dan mengakibatkan gelembung harga properti,” jelasnya.

Menurutnya, sektor properti China berdampak signifikan terhadap sektor-sektor lain, sehingga pelemahannya ikut menurunkan pertumbuhan ekonomi. Secara umum pertumbuhan ekonomi China tahun 2021 sekitar 8%.

Meski begitu, di tahun ini Ia memperkirakan akan tumbuh lebih rendah yakni di bawah angka 5%.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×