kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.819.000   -17.000   -0,93%
  • USD/IDR 16.565   165,00   0,99%
  • IDX 6.511   38,26   0,59%
  • KOMPAS100 929   5,57   0,60%
  • LQ45 735   3,38   0,46%
  • ISSI 201   1,06   0,53%
  • IDX30 387   1,61   0,42%
  • IDXHIDIV20 468   2,62   0,56%
  • IDX80 105   0,58   0,56%
  • IDXV30 111   0,69   0,62%
  • IDXQ30 127   0,73   0,58%

Sharp siap investasi tenaga surya senilai US$ 1 miliar


Minggu, 20 November 2011 / 13:31 WIB
Sharp siap investasi tenaga surya senilai US$ 1 miliar


Reporter: Rika | Editor: Rizki Caturini

NUSA DUA. Kementerian Energi dan Sumber Daya Manusia (ESDM) mengaku mendapatkan sejumlah komitmen investasi baru di bidang energi dari KTT ASEAN dan KTT terkait di Bali. Di antaranya, dari Sharp yang siap berinvestasi di bidang tenaga matahari senilai US$ 1 miliar.

Menteri ESDM, Jero Wacik, mengatakan, rencana ini mendapat penegasan saat bertemu pemerintah Jepang, Jumat (18/11). Ia menceritakan, pekan ini, tim ESDM sudah berkunjung ke Jepang untuk bertemu dengan Sharp. “Mereka punya contoh di Thailand yang mereka sudah lakukan membangun 100 hektare (ha) panel surya, menghasilkan 73 megawatt listrik dengan harga US$ 0,23 per kwh,” tuturnya.

Dengan harga ini, tenaga matahari akan jadi lebih murah daripada menggunakan bahan bakar minyak yang harganya sekitar US$ 0,40 per kwh. Menurut Jero, rencana ini sama sekali baru karena Sharp baru mulai menjajaki dan bertemu dengannya yang baru menjabat sebagai menteri.

“Tadinya mereka pesimistis apakah Indonesia mau memperhatikan tenaga surya. Tapi saya mengerti tenaga surya di sini banyak tapi tidak termanfaatkan dan mesti kita kejar,” paparnya dalam konferensi pers tentang hasil KTT ASEAN di bidang energi, Sabtu (19/11).

Ia menegaskan, Kementerian ESDM akan terus menjajaki rencana ini. Sebab potensinya besar lantaran dengan matahari yang bersinar sepanjang tahun di Indonesia. Namun, Sharp maupun Jero masih belum memutuskan lokasi mana yang akan dibidik.

“Kalau ditanya di mana potensinya, di seluruh Indonesia karena terdiri dari pulau-pulau. Kalau di pulau terpencil harus ada listrik, pilihannya kalau kita bawa pakai pipa jauh menyeberangi laut, kalau BBM mahal,” tutupnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Survei KG Media

TERBARU
Kontan Academy
Supply Chain Management on Procurement Economies of Scale (SCMPES) Brush and Beyond

[X]
×