kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.940.000   20.000   0,68%
  • USD/IDR 16.808   -72,00   -0,43%
  • IDX 8.032   96,61   1,22%
  • KOMPAS100 1.132   15,02   1,34%
  • LQ45 821   5,36   0,66%
  • ISSI 284   5,77   2,08%
  • IDX30 427   0,41   0,10%
  • IDXHIDIV20 513   -1,95   -0,38%
  • IDX80 127   1,53   1,22%
  • IDXV30 139   0,46   0,33%
  • IDXQ30 139   -0,29   -0,21%

Selalu defisit dari China, ini barang yang diimpor


Jumat, 16 Oktober 2015 / 10:19 WIB
Selalu defisit dari China, ini barang yang diimpor


Sumber: Kompas.com | Editor: Sanny Cicilia

JAKARTA. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin mengakui sejauh ini neraca perdagangan dengan negeri tirai bambu Tiongkok tidak pernah mencatatkan surplus. 

“Dengan Tiongkok kita selalu defisit,” kata Suryamin, dalam paparan di Jakarta, Kamis (15/10). 

Pada bulan September 2015, nilai impor RI dari Tiongkok mencapai US$ 2,48 miliar, sedangkan nilai ekspornya hanya US$ 1,05 miliar.. Dengan demikian, defisit neraca perdagangan RI-Tiongkok pada September 2015 sebesar US$ 1,43 miliar. 

Secara kumulatif, Januari-September 2015, nilai impor RI dari Tiongkok mencapai US$ 21,49 miliar, sedangkan nilai ekspornya hanya US$ 9,92 miliar. Dengan demikian, neraca perdagangan RI-Tiongkok sepanjang Januari-September 2015 mencetak defisit sebesar US$ 11,57 miliar. 

Berdasarkan data BPS, 10 golongan barang utama ini adalah yang paling banyak diimpor RI dari Tiongkok sepajang Januari-September 2015: 

1. Mesin-mesin/pesawat mekanik, US$ 5,26 miliar 
2. Mesin/peralatan listrik, US$ 4,60 miliar 
3. Besi dan baja, US$ 1,40 miliar 
4. Benda-benda dari besi dan baja, US$ 805 juta 
5. Bahan kimia organik, US$ 765 juta
6. Plastik dan barang dari plastik, US$ 740 juta
7. Pupuk, US$ 479 juta
8. Bahan kimia anorganik, US$ 400 juta 
9. Filamen buatan, US$ 394 juta
10. Kapas, US$ 385 juta 

Adapun barang lain yang juga diimpor dari China nilainya mencapai US$ 6,44 miliar. Untuk diketahui, data BPS yang dirilis ini merupakan data neraca ekspor-impor sementara sampai September 2015, disebabkan adanya jarak antara realisasi ekspor-impor dengan pencatatan BPS. (Estu Suryowati)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×