kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.526   26,00   0,15%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

SBY minta agar rupiah stabil di Rp 9.800 per US$


Selasa, 11 Juni 2013 / 17:31 WIB
ILUSTRASI. Mengenal Terarium, Ekosistem Mini Buatan di Dalam Kaca


Reporter: Noverius Laoli | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

JAKARTA. Pada hari ini (11/6), Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) meminta para pembantunya untuk menahan laju pelemahan rupiah pada angka Rp 9.800 per US$. Pemerintah merasa, pelemahan rupiah yang sempat menyentuh angka di atas Rp 10.000 per US$ yang terjadi kemarin menganggu pertumbuhan ekonomi Indonesia.

"Hari ini, angka rupiah akan coba ditahan pada Rp 9.800 per US$ agar tidak sampai menembus angka Rp 10.000 seperti kemarin," ujar Firmanzah, Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi dan Pembangunan di Kantor Presiden, Selasa (11/6).

Firmanzah bilang, Presiden berharap mata uang Garuda bisa stabil di angka Rp 9.500 sampai Rp 9.800 per US$. Sebab kalau nilai rupiah terlalu naik, maka tidak bagus bagi ekspor barang-barang dalam negeri. Sementara jika rupiah melemah, juga tidak baik bagi sektor impor.

Selain itu, Presiden juga mendesak agar pembahasan dana kompensasi kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi di DPR segera disahkan agar harga BBM bisa segera dinaikkan.

Pemerintah berharap, lanjut Firmanzah, dengan kenaikan harga BBM maka nilai tukar rupiah bisa kembali menguat. Sebab, akan ada kepastian kebijakan untuk mengurangi defisit fiskal dan neraca perdagangan yang banyak disumbangkan dari impor BBM.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×