kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.540.000   0   0,00%
  • USD/IDR 18.097   17,00   0,09%
  • IDX 5.439   51,35   0,95%
  • KOMPAS100 703   6,01   0,86%
  • LQ45 547   2,49   0,46%
  • ISSI 186   3,05   1,66%
  • IDX30 306   1,13   0,37%
  • IDXHIDIV20 403   3,67   0,92%
  • IDX80 81   0,56   0,70%
  • IDXV30 112   1,52   1,37%
  • IDXQ30 102   0,58   0,58%

Saksi kasus korupsi e-KTP, Abdul Malik Haramain diperiksa KPK


Senin, 09 Juli 2018 / 16:17 WIB
ILUSTRASI. Abdul Malik Haramain


Reporter: | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Mantan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Abdul Malik Haramain, hari ini, Senin (9/7) diperiksa oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk kasus korupsi pengadaan paket KTP elektronik (e-KTP). 

Abdul mengaku telah memberikan keterangan terkait tersangka kasus korupsi e-KTP, Markus Nari (MN), kepada penyidik KPK. "Selengkapnya tanya ke penyidik ya," ucap Abdul dari Gedung KPK, Senin (9/7).

Abdul keluar dari gedung KPK setelah melalui pemeriksaan sekitar 4,5 jam oleh penyidik KPK. Abdul membantah mengetahui adanya pemberian fee kepada tersangka MN oleh terdakwa kasus korupsi e-KTP, Irman. "(saya) sama sekali tidak (tahu)," balas Abdul.

Mantan anggota DPR RI, MN ditetapkan sebagai tersangka kasus korupsi e-KTP pada 19 Juli tahun lalu. MN diduga berperan dalam memuluskan pembahasan dan penambahan anggaran proyek e-KTP di DPR. 

MN diduga telah menerima uang sebesar Rp 4 miliar dari Eks Dirjen Dukcapil Kemendagri RI saat ini sudah menjadi terdakwa kasus korupsi e-KTP, Irman. MN diduga secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain, atau sebuah korporasi dalam pengadaan KTP elektronik tahun 2011-2013 di Kementerian Dalam Negeri (Kemdagri) sehingga menyebabkan kerugian keuangan negara.

KPK mensangkakan Pasal 2 atau 3 ayat 1 UU Nomor 31 1999 Tentang Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 tahun 2001 jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP kepada MN dengan hukuman maksimal masing-masing 20 tahun atau seumur hidup dan atau denda Rp1 miliar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×