kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.705.000   2.000   0,07%
  • USD/IDR 16.973   -20,00   -0,12%
  • IDX 9.135   0,83   0,01%
  • KOMPAS100 1.255   -8,26   -0,65%
  • LQ45 884   -8,74   -0,98%
  • ISSI 334   -0,41   -0,12%
  • IDX30 454   -1,06   -0,23%
  • IDXHIDIV20 538   0,43   0,08%
  • IDX80 140   -1,06   -0,76%
  • IDXV30 149   -0,12   -0,08%
  • IDXQ30 146   -0,09   -0,06%

Rupiah Tersungkur, Berdampak ke Defisit Transaksi Berjalan?


Selasa, 20 Januari 2026 / 20:35 WIB
Rupiah Tersungkur, Berdampak ke Defisit Transaksi Berjalan?
ILUSTRASI. Meski pelemahan nilai tukar rupiah sudah all time low, namun dinilai tidak akan berdampak signifikan terhadap defisit transaksi berjalan (ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA)


Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Sejumlah ekonom menilai, nilai tukar rupiah yang melemah ke level terendah sepanjang masa (all time low) nyaris menyentuh Rp 17.000 per dolar AS, tidak akan berdampak signifikan terhadap defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD).

Tercatat, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali melemah pada penutupan perdagangan, Selasa (20/1/2026). Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terkoreksi 0,01% ke Rp 16.956 per dolar AS. 

Global Market Economist Maybank Indonesia Myrdal Gunarto menilai, meski pelemahan nilai tukar rupiah sudah all time low, namun hal tersebut tidak akan berdampak signifikan terhadap defisit transaksi berjalan.

Baca Juga: Ketua Komisi XI DPR: Thomas Djiwandono Penuhi Syarat Calon Deputi Gubernur BI

Menurut Myrdal, hingga tahun ini defisit transaksi berjalan Indonesia masih berada pada level yang relatif kecil, yakni sekitar minus 0,35% terhadap produk domestik bruto (PDB). 

Ia juga menilai pelemahan rupiah saat ini bukan disebabkan oleh pelebaran CAD maupun tekanan arus keluar modal (capital outflow).

“Kalau dilihat ke CAD, defisitnya masih sedikit. Pelemahan rupiah bukan karena capital outflow atau pelebaran defisit transaksi berjalan,” ujar Myrdal kepada Kontan, Selasa (20/1/2026).

Menurutnya, tekanan terhadap rupiah lebih disebabkan oleh adanya mismatch antara permintaan dan pasokan valuta asing (valas) di dalam negeri. 

Ketidakseimbangan ini terutama terjadi antara eksportir dan importir, serta antara eksportir dengan pelaku usaha atau korporasi yang memiliki kewajiban pembayaran utang luar negeri.

Myrdal menyebut, permintaan dolar AS di dalam negeri masih cukup tinggi, sementara pasokan valas dari eksportir cenderung terbatas. Kondisi ini terjadi karena sebagian besar eksportir, khususnya dari sektor sumber daya alam nonmigas, tidak sepenuhnya mengonversi 100% devisa hasil ekspor ke dalam negeri.

“Demand valasnya masih tetap, tetapi suplai valas di dalam negeri relatif kering. Bukan karena likuiditas dolar tidak ada, melainkan karena suplai valas dari eksportir tidak dikonversi penuh,” jelasnya.

Myrdal mengatakan, risiko eksternal yang paling perlu diwaspadai adalah potensi tekanan global yang dapat memicu capital outflow. Namun, dampak tekanan eksternal tersebut dinilai masih dapat dikelola apabila fundamental domestik tetap kuat.

“Kalau tekanan eksternal besar tentu ada risiko capital outflow. Tapi kalau fundamental domestik kuat, dampaknya akan lebih manageable,” ujarnya.

Dari sisi domestik, Myrdal mengingatkan sejumlah faktor yang perlu menjadi perhatian, antara lain kelancaran pemerintah dalam menjalankan program prioritas pembangunan, sinergi antar lembaga, serta kelancaran proses investasi. 

Selain itu, upaya debottlenecking serta stabilitas sosial dan politik domestik juga dinilai berperan penting dalam menjaga stabilitas ekonomi dan nilai tukar rupiah.

Baca Juga: Penerbitan SBN Valas Dinilai Bisa Dilakukan Pemerintah Pada Kuartal I 2026

Senada, Kepala Ekonom David Sumual menilai prospek kinerja eksternal ke depan tidak sebaik kuartal IV 2025. Ia memproyeksikan net ekspor akan mengalami penurunan, seiring berakhirnya fenomena front loading impor oleh Amerika Serikat.

“Proyeksinya tidak sebaik kuartal IV 2025, karena net ekspor menurun pasca front loading importir AS yang mengantisipasi kebijakan tarif Presiden Donald Trump,” ujar David.

Dengan demikian, normalisasi pola impor AS tersebut berpotensi menekan kinerja ekspor negara-negara mitra dagang, termasuk Indonesia, sehingga perlu diantisipasi dalam menjaga keseimbangan eksternal dan stabilitas nilai tukar ke depan. 

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa juga menilai, dampak pelemahan rupiah yang berkisar 2%-3% ke perekonomian akan berdampak minimum. 

"Let's say importir ada kenaikan 2%-3%, masih bisa dikendalikan enggak? Saya pikir sih masih bisa. Tapi yang penting adalah pondasi ekonomi kita arahnya berlawanan dengan nilai tukar pada saat ini (fundamental ekonomi menguat)," ungkap Purbaya

Menurutnya, dengan pondasi ekonomi yang membaik, seharunya rupiah tak melemah, mengingat kinerja pasar modal juga mencetat rekor tertinggi sepanjang masa.

"Mungkin sebagian orang takut, tapi saya pikir sih kalau dari market kelihatan sekali kan mereka percaya pondasi ekonomi kita baik. Dan mungkin juga semakin melemah (rupiah) mereka masuk (ke pasar modal), kenapa? Dia bisa dapat dari capital gain dan forex gain nanti ketika ekonomi atau rupiah-nya bergerak searah dengan fundamentalnya," imbuh Purbaya.

Selanjutnya: Wacana Hentikan Insentif EV Dinilai Berisiko Hambat Transisi Energi dan Tekan APBN

Menarik Dibaca: 5 Manfaat Olahraga Sebelum Makan, Ampuh Bakar Lemak Lebih Banyak!

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

[X]
×