Sumber: Kompas.com | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Sempat tertekan, pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mulai bergerak menguat.
Berdasarkan catatan Google Finance, mata uang Indonesia rupiah merangkak tipis hingga 0.23 persen ke level Rp 16.719 per pukul 11.02 WIB, Rabu (28/1/2026). Posisi tersebut lebih kuat dibanding penutupan perdagangan hari sebelumnya.
Mengutip dari Kompas.com, Selasa (27/1/2026), rupiah ditutup pada angka Rp 16.768 per dolar AS.
Guru Besar Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof. Dr. Anton Agus Setyawan, S.E., M.Si menjelaskan bahwa penguatan rupiah di beberapa hari terakhir terjadi karena sejumlah faktor.
"Ada beberapa sebab yang bisa saya lihat, kaitannya dengan faktor penguatan rupiah di beberapa hari ini. Saya melihat data (kenaikan) 23-27 Januari 2026," beber Anton kepada Kompas.com, Rabu (28/1/2026).
Lantas, apa saja faktor pendorong penguatan rupiah setelah sebelumnya hampir mendekati angka Rp 17.000?
Baca Juga: IHSG Anjlok 8%: Peluang Emas Saham Blue Chip? Ini Saran Ekonom
Intervensi bank sentral
Langkah yang diambil Bank Indonesia (BI) sebagai bank sentral untuk menstabilkan pergerakan rupiah memegang peran krusial.
Anton menilai, intervensi dari Bank Indonesia menjadi salah satu faktor yang membuat nilai tukar rupiah menguat di beberapa hari terakhir.
"Jadi memang BI bulan ini melakukan intervensi besar-besaran di berbagai pasar, mulai dari pasar spot, di domestic non deliverable forward atau DNDF, kemudian pasar obligasi," sebut Anton.
Anton memandang, langkah tersebut menunjukkan komitmen BI untuk selalu menjaga stabilitas.
"Hal tersebut saya kira memberikan kepercayaan diri bagi para pelaku pasar," katanya.
Kebijakan suku bunga
Faktor berikutnya yang membuat nilai rupiah menguat adalah kebijakan suku bunga BI.
"Pada pertemuan rapat Dewan Gubernur BI di tanggal 21 Januari 2026, BI memutuskan untuk menahan BI-Rate (suku bunga acuan) itu di level 4,75 persen," tambah Anton.
Dengan kata lain, BI belum menurunkan suku bunga bank. Menurut Anton, keputusan ini memang terasa kurang menguntungkan bagi pelaku usaha karena bunga masih lumayan tinggi.
"Ini memang kemudian ya agak kurang agresif. Mungkin sedikit bagi sektor real beritanya jadi kurang bagus, karena tingkat bunganya berarti masih lumayan tinggi," jelas Anton.
Baca Juga: Aturan Baru SIM Card: Ini 4 Identitas Wajib untuk Registrasi Termasuk Biometrik
Namun di sisi lain, Anton menjelaskan kebijakan tersebut bisa membantu untuk menahan aliran modal keluar.
"Yang mana saya kira itu bisa membantu menjaga rupiah tetap stabil," imbuhnya.
Pelemahan indeks dolar
Selain dorongan domestik, penguatan nilai tukar rupiah juga dipengaruhi oleh kondisi eksternal. Salah satu faktornya adalah pelemahan indeks dolar Amerika Serikat.
Anton menyebutkan bahwa, sejumlah data ekonomi Amerika Serikat yang dirilis bulan Januari 2026 tidak sesuai dengan ekspetasi pasar.
"Jadi lebih buruk dari yang diharapkan oleh pasar," ulas Anton.
Kondisi tersebut membuat dolar Amerika Serikat melemah di pasar global. Imbasnya, bukan hanya rupiah saja yang menguat, melainkan juga mata uang di Asia.
"Jadi tidak hanya rupiah saja, tapi banyak mata uang di Asia yang kemudian mengalami penguatan," imbuh Anton.
Masih mengutip dari laporan Kompas.com, Rabu (28/1/2026), beberapa mata uang negara Asia ada yang menguat. Ringgit Malaysia menguat 0,76 persen, dollar Taiwan naik 0,49 persen, won Korea Selatan melonjak 0,36 persen, peso Filipina merangkak naik 0,35 persen, serta yuan China menguat tipis 0,08 persen.
Rendahnya sentimen geopolitik
Sektor eksternal lainnya yang menyebabkan penguatan rupiah adalah merendahnya sentimen geopolitik.
Anton menyebutkan, ketegangan geopolitik di berbagai negara mulai menurun.
"Jadi terkait dengan isu militer di Greenland, kemudian ketidakstabilan di berbagai tempat yang mulai mereda. Terutama isu Greenland itu kan mereda karena Amerika menurunkan tensi, Eropa juga begitu," terang Anton.
Tonton: Aktivasi Akun Coretax DJP Tembus 12,5 Juta Wajib Pajak per 26 Januari 2026
Nah, meredanya ketidakpastian global tersebut mendorong penguatan mata uang, termasuk rupiah.
"Jadi ini yang mempengaruhi penguatan rupiah juga," tekan Anton.
Artikel ini sudah tayang sebelumnya di Kompas.com berjudul "Rupiah Kembali Menguat, Profesor Ekonomi Sebut 4 Faktornya"
Selanjutnya: Sehari Naik Dua Kali, Melejit Grafik Harga Emas Antam Batangan (28 Januari 2026)
Menarik Dibaca: Harga Emas Antam Tembus Rp 3 Juta Rabu Sore 28 Januari 2026
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













