Sumber: Kompas.com | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
Selain dorongan domestik, penguatan nilai tukar rupiah juga dipengaruhi oleh kondisi eksternal. Salah satu faktornya adalah pelemahan indeks dolar Amerika Serikat.
Anton menyebutkan bahwa, sejumlah data ekonomi Amerika Serikat yang dirilis bulan Januari 2026 tidak sesuai dengan ekspetasi pasar.
"Jadi lebih buruk dari yang diharapkan oleh pasar," ulas Anton.
Kondisi tersebut membuat dolar Amerika Serikat melemah di pasar global. Imbasnya, bukan hanya rupiah saja yang menguat, melainkan juga mata uang di Asia.
"Jadi tidak hanya rupiah saja, tapi banyak mata uang di Asia yang kemudian mengalami penguatan," imbuh Anton.
Masih mengutip dari laporan Kompas.com, Rabu (28/1/2026), beberapa mata uang negara Asia ada yang menguat. Ringgit Malaysia menguat 0,76 persen, dollar Taiwan naik 0,49 persen, won Korea Selatan melonjak 0,36 persen, peso Filipina merangkak naik 0,35 persen, serta yuan China menguat tipis 0,08 persen.
Rendahnya sentimen geopolitik
Sektor eksternal lainnya yang menyebabkan penguatan rupiah adalah merendahnya sentimen geopolitik.
Anton menyebutkan, ketegangan geopolitik di berbagai negara mulai menurun.
"Jadi terkait dengan isu militer di Greenland, kemudian ketidakstabilan di berbagai tempat yang mulai mereda. Terutama isu Greenland itu kan mereda karena Amerika menurunkan tensi, Eropa juga begitu," terang Anton.
Tonton: Aktivasi Akun Coretax DJP Tembus 12,5 Juta Wajib Pajak per 26 Januari 2026
Nah, meredanya ketidakpastian global tersebut mendorong penguatan mata uang, termasuk rupiah.
"Jadi ini yang mempengaruhi penguatan rupiah juga," tekan Anton.
Artikel ini sudah tayang sebelumnya di Kompas.com berjudul "Rupiah Kembali Menguat, Profesor Ekonomi Sebut 4 Faktornya"
Selanjutnya: Sehari Naik Dua Kali, Melejit Grafik Harga Emas Antam Batangan (28 Januari 2026)
Menarik Dibaca: Harga Emas Antam Tembus Rp 3 Juta Rabu Sore 28 Januari 2026
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













