kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.916.000   -1.000   -0,03%
  • USD/IDR 16.791   2,00   0,01%
  • IDX 8.980   4,90   0,05%
  • KOMPAS100 1.240   -4,48   -0,36%
  • LQ45 876   -6,31   -0,72%
  • ISSI 331   0,57   0,17%
  • IDX30 444   -6,39   -1,42%
  • IDXHIDIV20 519   -14,10   -2,64%
  • IDX80 138   -0,67   -0,49%
  • IDXV30 144   -3,64   -2,47%
  • IDXQ30 142   -2,84   -1,95%

Rupiah Melemah, Defisit Membesar, Ekonom Minta Waspada Tekanan di Pasar Keuangan


Selasa, 27 Januari 2026 / 21:05 WIB
Rupiah Melemah, Defisit Membesar, Ekonom Minta Waspada Tekanan di Pasar Keuangan
ILUSTRASI. Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede (KONTAN/Aldehead Marinda)


Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai stabilitas sistem keuangan Indonesia masih berada dalam kondisi stabil dan resilien, namun sejumlah risiko perlu diwaspadai agar tidak berkembang menjadi tekanan yang lebih serius ke pasar dan perekonomian.

Josua mengatakan, indikator inti stabilitas sistem keuangan menunjukkan kondisi yang relatif solid. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai stabilitas sektor jasa keuangan tetap terjaga, didukung permodalan dan kualitas kredit perbankan yang kuat. Hal ini tercermin dari rasio kecukupan modal (CAR) sebesar 25,87% dan kualitas kredit (NPL) bruto 2,05%, dengan likuiditas yang memadai.

Meski demikian, kombinasi pelebaran defisit fiskal dan pelemahan nilai tukar rupiah membuat pasar menjadi lebih sensitif terhadap sentimen. Defisit fiskal diprakirakan melebar dari -2,29% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2024 menjadi -2,92% pada 2025, sementara rupiah sempat melemah ke Rp 16.945 per dolar AS pada 20 Januari 2026, di tengah arus keluar bersih portofolio sekitar US$ 1,6 miliar hingga 19 Januari 2026.

Baca Juga: Gubernur BI Sebut Rupiah Masih Undervalued dan Secara Fundamental Berpotensi Menguat

“Dalam konteks tersebut, wajar jika Bank Indonesia menahan BI Rate di level 4,75% pada Januari 2026 dengan fokus utama stabilisasi rupiah,” ujarnya kepada Kontan, Selasa (27/1/2026).

Josua menyoroti ketahanan eksternal sebagai risiko pertama yang paling cepat menular ke pasar dan biaya dana. Di satu sisi, transaksi berjalan 2025 masih diprakirakan relatif sehat, di kisaran defisit 0,5% hingga surplus 0,3% dari PDB, sementara cadangan devisa akhir Desember 2025 meningkat menjadi US$ 156,5 miliar atau setara 6,4 bulan impor. 

Namun di sisi lain, tekanan rupiah dapat muncul ketika ketidakpastian global meningkat, memicu arus keluar portofolio bersamaan dengan naiknya kebutuhan valas perbankan dan korporasi.

Risiko kedua datang dari keseimbangan inflasi dan daya beli. Inflasi Desember 2025 tercatat 2,92% secara tahunan dengan inflasi inti 2,38%, masih dalam sasaran. Namun inflasi pangan bergejolak yang mencapai 6,21% menjadi risiko paling nyata karena berpotensi menggerus konsumsi kelompok menengah-bawah.

Dari sisi permintaan domestik, keyakinan konsumen masih kuat dengan IKK 123,5, didukung Indeks Kondisi Ekonomi (IKE) 111,4 dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) 135,6. Penjualan eceran juga masih tumbuh 6,3% secara tahunan pada November 2025, meski diprakirakan melambat menjadi 4,4% pada Desember. 

Menurut Josua, pemulihan konsumsi masih terlihat, tetapi rentan melambat jika tekanan harga pangan dan ketidakpastian pekerjaan membesar.

Baca Juga: Cegah Masuknya Virus Nipah, Pengawasan Bandara Soekarno-Hatta Diperketat

Sorotan ketiga adalah transmisi tekanan ke pasar keuangan dan perbankan. IHSG menutup 2025 di level 8.646,94, melonjak 22,13% secara tahunan, menandakan minat investasi domestik masih terjaga. Di perbankan, kredit tumbuh 9,6% yoy pada Desember 2025, sementara Dana Pihak Ketiga (DPK) meningkat 13,38% yoy, dengan kualitas kredit dan permodalan yang tetap kuat.

Namun Josua mengingatkan, jika defisit fiskal terus melebar dan rupiah berada dalam tekanan berkepanjangan, biaya pendanaan berpotensi naik dan menyerap likuiditas yang seharusnya mengalir ke kredit produktif.

"Tanda awalnya biasanya perlambatan kredit modal kerja, pengetatan syarat kredit, serta kenaikan risiko kredit di segmen konsumsi dan UMKM," ungkap Josua.

Ke depan, Josua menilai terdapat tiga lapis risiko utama yang perlu dicermati. Pertama, risiko global, berupa penguatan dolar AS, ketidakpastian kebijakan dan geopolitik, serta pelemahan mitra dagang yang dapat menahan arus modal dan menekan rupiah. 

Kedua, risiko fiskal, terutama jika pelebaran defisit tidak diiringi arah pembiayaan yang jelas dan konsisten, sehingga mendorong kenaikan imbal hasil dan bunga kredit. 

Ketiga, risiko mikro, mulai dari gejolak harga pangan, perlambatan penciptaan lapangan kerja, hingga meningkatnya kredit konsumsi berisiko yang berpotensi menaikkan NPL secara bertahap.

Baca Juga: Pengangguran Tinggi, Dunia Usaha Dorong Kesiapan Kerja Generasi Produktif

"Kuncinya adalah menjaga pasokan pangan, memperkuat pasokan valas dari ekspor, dan memastikan koordinasi serta komunikasi kebijakan fiskal–moneter konsisten agar kondisi tetap normal dan tidak naik kelas menjadi waspada,” tutup Josua.

Selanjutnya: Spanyol Siapkan Kompensasi 20 Juta Euro untuk Korban Kecelakaan Kereta Cepat Adamuz

Menarik Dibaca: Hasil Thailand Masters 2026: 3 Ganda Indonesia ke 16 Besar, Segel 1 Tiket 8 Besar

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

[X]
×