kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.622.000   10.000   0,38%
  • USD/IDR 18.015   32,00   0,18%
  • IDX 6.174   -22,50   -0,36%
  • KOMPAS100 806   -5,49   -0,68%
  • LQ45 611   -3,58   -0,58%
  • ISSI 214   -0,55   -0,26%
  • IDX30 344   -2,04   -0,59%
  • IDXHIDIV20 426   -2,92   -0,68%
  • IDX80 92   -0,59   -0,64%
  • IDXV30 116   -0,54   -0,46%
  • IDXQ30 110   -0,86   -0,78%

Realisasi nol, Bea Cukai minta BMDTP dihapus


Minggu, 02 Desember 2012 / 14:51 WIB
ILUSTRASI. Aplikasi digital banking Maybank2u atau M2U dari Maybank Indonesia.


Reporter: Agus Triyono | Editor: Edy Can

JAKARTA. Direktorat Jenderal Bea dan Cukai meminta insentif Bea Masuk Ditanggung Pemerintah (BMDTP) dihapus. Direktur Jenderal Bea dan Cukai Agung Kuswandono beralasan tidak ada pengusaha yang memanfaatkan insentif tersebut.

Tahun ini, pemerintah menyediakan insentif BMDTP hingga Rp 600 miliar. Namun, Agus mengatakan, hingga 23 November lalu, fasilitas itu belum terserap sama sekali.

Agung menduga ada beberapa masalah mengapa insentif itu belum terpakai.  Pertama, adanya pemberlakuan zona perdagangan bebas (FTA) di beberapa kawasan yang menerapkan  penurunan sampai pembebasan tarif bea masuk.
"Ketika bea masuk barangnya sudah nol, ngapain harus ngurus permohonan," kata Agung pekan kemarin.
 
Masalah lainnya adalah waktu penerbitan BMDTP.  Menurut Agung, seringkali penerbitan aturan pelaksanaan penggunaan BMDTP tidak sesuai dengan jadwal impor barang yang dimiliki oleh pengusaha. Akibatnya, banyak pengusaha yang terpaksa harus mengimpor barang terlebih dahulu ketimbang harus menunggu surat keputusan penggunaan BMDTP keluar.

Pengusaha menuding tidak terealisasinya insentif BMDTP karena pemerintah tidak serius memberikan insentif dan kemudahan. Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Moneter, Fiskal dan Kebijakan Publik Hariyadi Sukamdani mengatakan ketidak serius ini terlihat dari keterlambatan pemerintah dalam menerbitkan peraturan teknis. "BMDTP ini pelaksanaannya seperti seperti penyerapan anggaran, dikeber setelah mau akhir tahun, ya akhirnya menjadi tidak jelas prioritasnya," kata Hariyadi, beberapa waktu lalu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Legacy Data-Driven Forecasting: Prediksi Penjualan Lebih Akurat, Keputusan Bisnis Lebih Tepat

[X]
×