kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.614.000   8.000   0,31%
  • USD/IDR 17.940   -67,00   -0,37%
  • IDX 6.176   67,33   1,10%
  • KOMPAS100 814   12,72   1,59%
  • LQ45 622   13,33   2,19%
  • ISSI 212   0,39   0,18%
  • IDX30 351   8,04   2,34%
  • IDXHIDIV20 438   9,47   2,21%
  • IDX80 93   1,54   1,68%
  • IDXV30 117   0,44   0,38%
  • IDXQ30 113   2,94   2,65%

Purbaya Sesumbar Pemindahan SAL ke Himbara Dorong Ekonomi Tumbuh Lebih Cepat


Rabu, 06 Mei 2026 / 20:58 WIB
Purbaya Sesumbar Pemindahan SAL ke Himbara Dorong Ekonomi Tumbuh Lebih Cepat
APBN defisit Rp240,1 triliun per Maret 2026 (ANTARA FOTO/M RISYAL HIDAYAT)


Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sesumbar mengklaim melesatnya pertumbuhan ekonomi lebih cepat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya dikarenakan kebijakan pengelolaan kas negara yang lebih optimal.

Salah satunya dengan memindahkan kas negara dari Sisa Anggaran Lebih (SAL) dari bank sentral ke sistem perbankan Himbara.

“Kamu tahu kenapa ekonomi bisa tumbuh lebih cepat? Kita manage uang lebih bagus. Kan cuma pindahin cash saja dari BI ke situ, ekonomi tumbuh lebih cepat dan kita jaga itu,” ujar Purbaya saat ditemui di Jakarta, Rabu (6/5/2026).

Baca Juga: Intervensi Yield Pasar SBN dan Rupiah, Purbaya Mau Hidupkan Bond Stabilization Fund

Ia menjelaskan, meskipun dana pemerintah ditempatkan di bank-bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), kendali atas dana tersebut tetap berada di tangan pemerintah melalui Kementerian Keuangan.

Dengan skema tersebut, pemerintah dinilai mampu mendorong pertumbuhan tanpa harus menambah belanja negara secara signifikan.

“Artinya apa? Kita, pemerintah, Pak Presiden Prabowo Subianto bisa menumbuhkan pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat tanpa pengeluaran uang tambahan. Uangnya masih utuh,” katanya.

Purbaya menilai, strategi ini menjadi salah satu cara untuk menjaga likuiditas di sistem keuangan sekaligus mendorong aktivitas ekonomi domestik.

Baca Juga: Peserta Tax Amnesty Kembali Diperiksa, Kepercayaan Wajib Pajak Dikhawatirkan Tergerus

Ia juga menepis anggapan yang menyebut kebijakan fiskal pemerintah menjadi penyebab tekanan terhadap nilai tukar rupiah. “Jadi yang bilang kebijakan fiskal kita aneh, dia tidak mengerti apa yang kita kerjakan,” tegasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×