Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pertumbuhan uang beredar dalam arti luas (M2) diperkirakan mulai membaik dalam jangka pendek hingga menengah seiring meningkatnya arus modal asing yang kembali masuk serta penyaluran kembali dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) ke bank-bank Himbara.
Meski demikian, prospek likuiditas dalam jangka panjang masih dibayangi risiko pengetatan akibat ketidakpastian global dan potensi kebijakan fiskal yang lebih ekspansif sebagai bantalan ekonomi.
Data Bank Indonesia (BI) menunjukkan pertumbuhan M2 pada Juni 2026 melambat menjadi 8,7% secara tahunan (yoy), dari 10,8% yoy pada Mei 2026. Perlambatan ini mencerminkan likuiditas yang sempat mengetat, baik di pasar valuta asing maupun rupiah.
Baca Juga: Penguatan Dolar Amerika Masih Menekan Mata Uang Asia
Head of Macroeconomics & Market Research Permata Bank Faisal Rachman menjelaskan, perlambatan tersebut terutama dipicu kontraksi Aktiva Luar Negeri Bersih (Net Foreign Assets/NFA) akibat arus modal keluar (net capital outflow).
Kondisi ini dipengaruhi meningkatnya ketidakpastian global, mulai dari konflik di Timur Tengah hingga sinyal kebijakan moneter Amerika Serikat yang kembali cenderung ketat.
Ketidakpastian di dalam negeri, termasuk perkembangan terkait MSCI, juga memperburuk sentimen investor dan menekan likuiditas valuta asing.
"Likuiditas berpeluang membaik dalam jangka pendek, tetapi risiko pengetatan masih perlu diwaspadai," kata Faisal kepada Kontan, Kamis (23/7/2026).
Selain tekanan dari sisi eksternal, likuiditas rupiah juga terpengaruh oleh meningkatnya komponen Kewajiban kepada Pemerintah Pusat (Net Claims on Central Government/NCG).
Baca Juga: Serambi 2026, Kapan Jadwal Penukaran Uang Baru Bank Indonesia Periode 2?
Hal ini menunjukkan dana pemerintah kembali tersimpan di rekening pemerintah di BI setelah penarikan sementara dana SAL dari bank-bank Himbara, sejalan dengan langkah efisiensi anggaran untuk menjaga kesehatan APBN.
Akibatnya, likuiditas rupiah ikut mengalami pengetatan karena dana yang sebelumnya beredar di perbankan kembali terserap ke BI.
Meski demikian, Faisal menilai tekanan tersebut mulai mereda. Arus modal asing yang kembali masuk dalam beberapa waktu terakhir diperkirakan akan menopang likuiditas, sementara pemerintah juga telah menempatkan kembali dana SAL ke Himbara pada Juli 2026 sehingga dapat meningkatkan kemampuan perbankan dalam menyalurkan likuiditas ke perekonomian.
Menurutnya, kombinasi kedua faktor tersebut berpotensi mendorong pertumbuhan M2 kembali menguat dalam beberapa bulan mendatang.
Namun, prospek itu belum sepenuhnya bebas risiko. Faisal mengingatkan, apabila The Federal Reserve kembali mengambil sikap lebih agresif dalam menaikkan suku bunga, arus modal ke negara berkembang berpotensi kembali melemah sehingga menekan likuiditas domestik.
Baca Juga: Ketegangan Global Reda, Sejumlah Mata Uang Menguat Terhadap Dolar AS
Di sisi lain, konflik di Timur Tengah yang berkepanjangan juga dapat memicu kenaikan harga minyak dunia. Jika kondisi itu terjadi, pemerintah kemungkinan akan mengoptimalkan APBN sebagai peredam gejolak ekonomi dengan menarik kembali sebagian dana SAL ke BI untuk memperkuat kapasitas fiskal.
Langkah tersebut memang dapat memperkuat ruang fiskal pemerintah, tetapi di sisi lain berpotensi kembali menyerap likuiditas dari sistem keuangan sehingga ruang perbaikan pertumbuhan M2 menjadi lebih terbatas dalam jangka menengah hingga panjang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














