kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.850.000   0   0,00%
  • USD/IDR 16.923   27,00   0,16%
  • IDX 7.164   -138,03   -1,89%
  • KOMPAS100 989   -24,52   -2,42%
  • LQ45 732   -14,72   -1,97%
  • ISSI 252   -6,20   -2,41%
  • IDX30 398   -8,38   -2,06%
  • IDXHIDIV20 499   -11,65   -2,28%
  • IDX80 112   -2,43   -2,13%
  • IDXV30 136   -1,81   -1,31%
  • IDXQ30 130   -3,03   -2,28%

Proyek Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Dapat Lampu Hijau, DPR Pertanyakan Urgensinya


Minggu, 08 Maret 2026 / 12:47 WIB
Proyek Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Dapat Lampu Hijau, DPR Pertanyakan Urgensinya
ILUSTRASI. Persiapan pengoperasian Kereta Ekonomi Kerakyatan (ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga)


Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Proyek kereta cepat Jakarta - Surabaya dikabarkan telah mendapat lampu hijau dari Presiden Prabowo Subianto. Bukan cuma sampai Surabaya, kabarnya kajian bakal dilakukan hingga Banyuwangi.

Menanggapi hal tersebut, Anggota Komisi VI DPR RI, Mufti Anam, mempertanyakan logika pemerintah yang kembali menggulirkan proyek tersebut di tengah kondisi fiskal yang sedang tertekan.

Dia menyoroti data Kementerian Keuangan yang menunjukkan APBN per Januari 2026 sudah mengalami defisit sebesar Rp 54,6 triliun atau sekitar 0,21% dari PDB. Menurutnya, angka ini menunjukkan bahwa sejak awal tahun saja, kantong negara sudah berada di bawah tekanan.

Baca Juga: Jadwal Mudik 2026: Dua Tanggal Ini Rawan Macet Parah, Waspada!

“Saya terus terang mempertanyakan logika pemerintah yang kembali menggulirkan proyek kereta cepat Jakarta–Surabaya di tengah kondisi fiskal negara yang sedang tidak baik. Dalam situasi seperti ini, pemerintah seharusnya lebih berhati-hati dalam membuat proyek-proyek baru yang membutuhkan investasi sangat besar,” ujarnya kepada Kontan.co.id, Minggu (8/3/2026).

Mufti meminta pemerintah untuk jujur menjelaskan urgensi dari proyek ini kepada rakyat. Ia menilai, meski infrastruktur itu penting, pembangunannya harus berpijak pada skala prioritas dan kemampuan kantong negara, terutama saat daya beli masyarakat masih tertekan.

Dia bilang, banyak kebutuhan yang jauh lebih mendesak untuk diprioritaskan ketimbang mengejar proyek monumental. Hal tersebut meliputi stabilitas harga pangan, penciptaan lapangan kerja, penguatan UMKM, hingga perlindungan sosial bagi masyarakat bawah.

Anggota DPR Fraksi PDIP itu memberikan tiga catatan, pertama, ia menuntut transparansi mengenai kondisi finansial proyek kereta cepat Jakarta–Bandung yang sudah berjalan. Terutama terkait dampak pembengkakan biaya (cost overrun) yang pada akhirnya harus ditambal menggunakan uang rakyat melalui APBN.

“Kedua, pemerintah harus menjelaskan skema pembiayaan proyek Jakarta–Surabaya secara jelas, dan memastikan proyek ini tidak kembali menjadi beban bagi APBN. Ketiga, jangan sampai proyek besar seperti ini justru membuka ruang ketergantungan yang terlalu besar terhadap pihak asing,” tegasnya

Baca Juga: Proyek MLFF Jalan Terus, Menteri PU: Masalah Teknis dan Non-Teknis Sudah Beres

Ia mengingatkan agar pemerintah belajar dari beban fiskal proyek-proyek besar sebelumnya yang menyerap anggaran fantastis. Dia khawatir, tambahan beban baru justru akan mengorbankan kepentingan rakyat yang lebih mendasar, seperti ketimpangan gaji guru honorer hingga pembangunan desa yang terhambat.

“Pembangunan memang penting, tetapi pembangunan juga harus dilandasi oleh akal sehat dan keberpihakan kepada rakyat. Pada akhirnya, pembangunan harus memberi manfaat nyata bagi rakyat, bukan sekadar mengejar proyek yang terlihat besar atau monumental,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Financial Statement in Action

[X]
×