kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.574.000   -2.000   -0,08%
  • USD/IDR 17.913   -79,00   -0,44%
  • IDX 6.037   27,39   0,46%
  • KOMPAS100 777   3,53   0,46%
  • LQ45 595   3,08   0,52%
  • ISSI 210   1,46   0,70%
  • IDX30 331   2,54   0,77%
  • IDXHIDIV20 423   3,72   0,89%
  • IDX80 89   0,46   0,52%
  • IDXV30 115   0,93   0,82%
  • IDXQ30 108   0,61   0,57%

Presiden: tidak ada berubahan status untuk Papua


Jumat, 22 Februari 2013 / 19:04 WIB
ILUSTRASI. Konsumen belanja di salah satu supermarket di Tangerang Selatan. KONTAN/Baihaki


Reporter: Noverius Laoli | Editor: Cipta Wahyana

JAKARTA. Papua kembali membara. Meski demikian, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) meminta aparat tetap menangani peristiwa ini dengan proporsional dan tak berlebihan. Dengan alasan itu pula, SBY meminta aparat tidak mengubah status kemananan Papua, misalnya menjadi darurat. SBY menilai, penambahan personil juga tidak diperlukan.  

"Akan tetapi presiden meminta penegakan hukum dalam tertib sipil tetap harus ditegakkan,"ujar Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan, Djoko Suyanto saat memerikan keterangan persnya, Jumat (22/2). Djoko didampingi Panglima TNI, Kapolri, dan Kepala BIN.

Hari ini (22/2), Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menggelar rapat terbatas dengan sejumlah menteri, Kepala BIN, Panglima TNI dan Kapolri, untuk membahas kondisi Papua. Rapat ini bertujuan mencari solusi atas tindak kekerasan di Papua yang terjadi kemarin. Peristiwa itu telah menewaskan 12 orang, 8 orang di anggota TNI dan sisanya warga sipil.

Presiden SBY juga menginstruksikan jajarannya agar melakukan pengejaran terhadap pelaku kejahatan di Papua. Tujuannya tak lain untuk melakukan penegakkan hukum.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×