kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.630.000   -15.000   -0,57%
  • USD/IDR 17.998   85,00   0,47%
  • IDX 5.646   3,07   0,05%
  • KOMPAS100 728   0,09   0,01%
  • LQ45 554   1,20   0,22%
  • ISSI 196   -0,61   -0,31%
  • IDX30 315   0,28   0,09%
  • IDXHIDIV20 389   0,00   0,00%
  • IDX80 83   -0,08   -0,10%
  • IDXV30 106   -0,55   -0,51%
  • IDXQ30 102   0,18   0,18%

PMI Manufaktur Indonesia Anjlok ke 46,9 di Juni 2026, Industri Kembali Terkontraksi


Rabu, 01 Juli 2026 / 08:14 WIB
PMI Manufaktur Indonesia Anjlok ke 46,9 di Juni 2026, Industri Kembali Terkontraksi
ILUSTRASI. S&P Global mencatat PMI Manufaktur Indonesia turun menjadi 46,9 dari 50,0 pada Mei 2026, menandai memburuknya kondisi industri pengolahan (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Kinerja sektor manufaktur Indonesia kembali terkontraksi pada Juni 2026. S&P Global mencatat Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia turun menjadi 46,9 dari 50,0 pada Mei 2026, menandai memburuknya kondisi industri pengolahan akibat melemahnya permintaan dan meningkatnya tekanan biaya.

Penurunan PMI ke bawah level 50 menunjukkan aktivitas manufaktur kembali mengalami kontraksi. Pelemahan ini menjadi salah satu penurunan kondisi operasional paling besar dalam setahun.

S&P Global menyebut penyebab utama pelemahan tersebut adalah turunnya permintaan terhadap barang manufaktur Indonesia. Pesanan baru menyusut untuk pertama kalinya dalam tiga bulan terakhir dengan laju tercepat dalam setahun. 

Baca Juga: SPBU Swasta BP dan Shell Turunkan Harga Diesel Mulai Hari Ini 1 Juli 2026

Pelaku industri mengaitkan kondisi tersebut dengan melemahnya daya beli masyarakat akibat tekanan harga. Penurunan permintaan domestik juga diikuti melemahnya pesanan ekspor. 

Menurut laporan, permintaan dari pasar luar negeri turun karena kenaikan harga, sehingga kontraksi pesanan ekspor menjadi yang terdalam sejak Agustus 2021. 

Lesunya permintaan membuat perusahaan mengurangi produksi selama empat bulan berturut-turut. Pada Juni, penurunan output menjadi yang paling tajam sejak April 2025.

Kondisi tersebut turut berdampak pada pasar tenaga kerja. Perusahaan manufaktur kembali memangkas jumlah pekerja dengan laju PHK yang merupakan terbesar sejak September 2021. 

Aktivitas pembelian bahan baku juga menurun selama empat bulan berturut-turut dan menjadi yang terdalam sejak Agustus 2021. Sebagian perusahaan menyatakan kenaikan harga bahan baku turut menghambat aktivitas pembelian. 

Di sisi lain, tekanan biaya justru semakin meningkat. Inflasi harga input pada Juni tercatat sebagai yang tertinggi kedua sepanjang sejarah survei sejak dimulai pada April 2011. Kenaikan biaya terutama dipicu oleh mahalnya harga bahan baku dan pelemahan nilai tukar.

Baca Juga: Menteri Bahlil: Tarif Listrik Juli-September 2026 Tidak Naik

Akibatnya, produsen menaikkan harga jual produknya dengan laju tercepat dalam hampir 13 tahun atau sejak September 2013. Tekanan harga tersebut juga menyebabkan gangguan rantai pasok, ditandai dengan waktu pengiriman pemasok yang kembali memanjang selama sembilan bulan berturut-turut. 

Ekonom S&P Global Market Intelligence Usamah Bhatti mengatakan, sektor manufaktur Indonesia menutup semester pertama 2026 dengan kondisi yang memburuk.

"Kesehatan sektor manufaktur Indonesia menurun dua kali dalam tiga bulan terakhir menutup semester pertama 2026. Tingkat penurunan merupakan yang paling kuat dalam setahun, pesanan baru yang masuk kembali menurun menyebabkan penurunan volume output terbesar sejak bulan April 2025," kata Bhatti dalam laporannya, Rabu (1/6/2026).

Ia menambahkan perusahaan merespons pelemahan permintaan dengan memangkas tenaga kerja, mengurangi aktivitas pembelian, dan menurunkan persediaan.

Baca Juga: Anggaran Dipangkas, DKI Jakarta Bakal Terbitkan Obligasi Daerah Rp 3,5 Triliun

"Menanggapi keadaan ini, perusahaan menurunkan jumlah tenaga kerja dan aktivitas pembelian mereka besar-besaran, sementara inventaris juga menurun seiring melemahnya kondisi permintaan," katanya.

Meski demikian, prospek industri untuk 12 bulan ke depan mulai menunjukkan perbaikan. Tingkat optimisme pelaku usaha meningkat ke level tertinggi dalam tiga bulan terakhir karena mereka berharap tekanan harga mulai mereda sehingga dapat mendorong penjualan dan pertumbuhan output pada periode mendatang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?

Video Terkait



TERBARU

[X]
×