kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.622.000   10.000   0,38%
  • USD/IDR 18.015   32,00   0,18%
  • IDX 6.174   -22,50   -0,36%
  • KOMPAS100 806   -5,49   -0,68%
  • LQ45 611   -3,58   -0,58%
  • ISSI 214   -0,55   -0,26%
  • IDX30 344   -2,04   -0,59%
  • IDXHIDIV20 426   -2,92   -0,68%
  • IDX80 92   -0,59   -0,64%
  • IDXV30 116   -0,54   -0,46%
  • IDXQ30 110   -0,86   -0,78%

PKS mempertanyakan pemberian grasi Corby


Rabu, 30 Mei 2012 / 11:48 WIB
ILUSTRASI. Jahe bisa Anda manfaatkan sebagai obat tetes telinga.


Reporter: Dea Chadiza Syafina | Editor: Edy Can

JAKARTA.Partai Keadilan Sejahtera (PKS) meminta pemerintah menjelaskan pemberian grasi kepada terpidana terpidana kasus narkotika asal Australia, Schapelle Leigh Corby. Wakil Sekretaris Jenderal PKS Mahfudz Siddiq menyatakan, pemberian grasi itu patut dipertanyakan kendati hak prerogratif presiden.

Apalagi, Mahfudz mengatakan, pemberian grasi ini berkaitan dengan negosiasi antara Indonesia dengan Australia. "Barter atau negosiasi itu tidak masalah, sah-sah saja. Tapi kami tentu perlu mengetahui negosiasi apa yang telah disepakati, agar bisa kami awasi," katanya, Rabu (30/5).

Mahfudz menilai, negosiasi atas pemberian grasi kasus narkotika kepada warga negara asing dapat membuat preseden buruk bagi Indonesia di mata dunia internasional. Sebab, dia bilang negosiasi ini bertolak belakang dengan semangat pemberantasan narkotika. "Para pengedar dan penjual narkotika tentu akan semakin tertarik untuk mengembangkan pasar di Indonesia," katanya.

Pemerintah telah mendiskon masa hukuman Corby selama lima tahun. Sebelumnya, warga negara Australia ini dihukum 20 tahun penjara karena terbukti membawa narkotika.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Legacy Data-Driven Forecasting: Prediksi Penjualan Lebih Akurat, Keputusan Bisnis Lebih Tepat

[X]
×