Reporter: Siti Masitoh | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) pada Februari 2026 tumbuh melambat dibandingkan bulan sebelumnya.
Bank Indonesia (BI) mencatat, posisi M2 pada Februari 2026 sebesar Rp 10.089,9 triliun atau tumbuh 8,7% year on year (yoy). Pertumbuhan M2 tersebut lebih rendah setelah pada Januari 2026 tumbuh sebesar 10,0% yoy.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, perlambatan pertumbuhan uang beredar atau M2 ini terjadi ketika tagihan bersih kepada pemerintah pusat naik 25,6%, namun pertumbuhan kredit melambat menjadi 8,9% dari 10,2%.
“Ini berarti tambahan uang di perekonomian masih ada, tetapi dorongannya tidak sekuat bulan sebelumnya, dan sumber dorongannya lebih banyak datang dari sisi pemerintah daripada dari aliran pembiayaan ke dunia usaha dan rumah tangga,” tutur Josua kepada Kontan, Jumat (27/3/2026).
Baca Juga: Purbaya: Kebijakan WFH Satu Hari Bisa Efisien Bila Dtetapkan di Hari Jumat
Menurut Josua, pelambatan pertumbuhan uang beredar tersebut mencerminkan laju kegiatan ekonomi yang mulai sedikit tertahan, namun bukan langsung melemah tajam.
Ketika pertumbuhan kredit melambat, pelaku usaha biasanya lebih berhati-hati menambah persediaan, modal kerja, dan investasi, sedangkan rumah tangga juga tidak seagresif sebelumnya dalam belanja yang bergantung pada pembiayaan.
“Jadi, perlambatan uang beredar biasanya mengurangi tenaga dorong pada konsumsi, produksi, dan perdagangan,” kata Josua.
Meski begitu, Josua melihat, untuk kondisi Februari 2026 dampaknya belum otomatis berat karena keyakinan konsumen masih kuat pada level 125,2 dan penjualan eceran Februari 2026 masih diperkirakan tumbuh 6,9% yoy, sehingga permintaan domestik masih punya penyangga.
Josua mengatakan, apabila uang beredar benar-benar turun dalam arti jumlahnya menyusut, artinya lebih serius, menandakan dana yang berputar di ekonomi makin ketat, sehingga ruang untuk belanja, simpanan, dan pembiayaan ikut mengecil. Sisi baiknya, tekanan harga bisa mereda.
Baca Juga: Menko Airlangga Akan Lapor Besaran Efisiensi Anggaran K/L ke Presiden Sore Ini
Tetapi sisi kurang baiknya, pertumbuhan ekonomi bisa melambat, omzet usaha bisa tertahan, dan penciptaan lapangan kerja bisa ikut melemah bila berlangsung lama.
“Karena itu, sinyal saat ini lebih tepat dibaca sebagai peringatan dini, bukan tanda bahaya besar dimana uang beredar masih bertambah, tetapi perlu dijaga agar pertumbuhan kredit tidak terus melemah, karena kredit adalah jalur yang paling langsung menggerakkan kegiatan usaha dan pertumbuhan ekonomi,” ujar Josua.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













