kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.774.000   -25.000   -0,89%
  • USD/IDR 17.847   -12,00   -0,07%
  • IDX 6.195   68,05   1,11%
  • KOMPAS100 824   16,97   2,10%
  • LQ45 619   8,11   1,33%
  • ISSI 215   -1,05   -0,49%
  • IDX30 350   2,03   0,58%
  • IDXHIDIV20 428   1,77   0,41%
  • IDX80 94   1,01   1,10%
  • IDXV30 118   -0,67   -0,56%
  • IDXQ30 112   0,74   0,66%

Perang Rare Earth Memanas: Ekonom Desak Indonesia Bangun Ekonomi Anti-Fragile


Rabu, 15 Oktober 2025 / 04:47 WIB
Perang Rare Earth Memanas: Ekonom Desak Indonesia Bangun Ekonomi Anti-Fragile
ILUSTRASI. Ketegangan dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok yang kini merembet ke sektor logam tanah jarang (rare earth elements) menjadi peringatan keras bagi Indonesia. REUTERS/David Becker


Reporter: Barratut Taqiyyah Rafie | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

“Kita tidak bisa hanya bereaksi terhadap gejolak global. Setiap krisis harus menjadi momentum penguatan fondasi ekonomi nasional,” kata Fakhrul.

Ia juga menegaskan perlunya Indonesia melampaui paradigma “ketahanan” menuju ekonomi anti-fragile, yaitu sistem ekonomi yang mampu bertumbuh di tengah ketidakpastian dan tekanan.

“Dalam bahasa Nassim Taleb, ketahanan sejati bukan soal bertahan, tetapi bertumbuh melalui tekanan. Dunia sedang berubah cepat; Indonesia harus menata ulang desain ekonominya agar setiap guncangan menjadi sumber kekuatan baru,” ujarnya.

Tonton: Tiongkok Batasi Ekspor Tanah Jarang, Trump Meradang dan Langsung Getok Tarif 100%!

Menurut Fakhrul, dinamika global terkait rare earth adalah contoh nyata bagaimana Indonesia harus berdiri tegak di tengah arus perubahan dunia. Kunci utamanya, kata dia, terletak pada kemampuan Indonesia membangun struktur ekonomi berbasis nilai tambah dan kepentingan nasional yang tidak mudah terguncang oleh tekanan eksternal.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×