kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.576.000   -5.000   -0,19%
  • USD/IDR 17.913   -79,00   -0,44%
  • IDX 6.037   27,39   0,46%
  • KOMPAS100 777   3,53   0,46%
  • LQ45 595   3,08   0,52%
  • ISSI 210   1,46   0,70%
  • IDX30 331   2,54   0,77%
  • IDXHIDIV20 423   3,72   0,89%
  • IDX80 89   0,46   0,52%
  • IDXV30 115   0,93   0,82%
  • IDXQ30 108   0,61   0,57%

Perang Rare Earth Memanas: Ekonom Desak Indonesia Bangun Ekonomi Anti-Fragile


Rabu, 15 Oktober 2025 / 04:47 WIB
Perang Rare Earth Memanas: Ekonom Desak Indonesia Bangun Ekonomi Anti-Fragile
ILUSTRASI. Ketegangan dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok yang kini merembet ke sektor logam tanah jarang (rare earth elements) menjadi peringatan keras bagi Indonesia. REUTERS/David Becker


Reporter: Barratut Taqiyyah Rafie, Barratut Taqiyyah Rafie | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

“Kita tidak bisa hanya bereaksi terhadap gejolak global. Setiap krisis harus menjadi momentum penguatan fondasi ekonomi nasional,” kata Fakhrul.

Ia juga menegaskan perlunya Indonesia melampaui paradigma “ketahanan” menuju ekonomi anti-fragile, yaitu sistem ekonomi yang mampu bertumbuh di tengah ketidakpastian dan tekanan.

“Dalam bahasa Nassim Taleb, ketahanan sejati bukan soal bertahan, tetapi bertumbuh melalui tekanan. Dunia sedang berubah cepat; Indonesia harus menata ulang desain ekonominya agar setiap guncangan menjadi sumber kekuatan baru,” ujarnya.

Tonton: Tiongkok Batasi Ekspor Tanah Jarang, Trump Meradang dan Langsung Getok Tarif 100%!

Menurut Fakhrul, dinamika global terkait rare earth adalah contoh nyata bagaimana Indonesia harus berdiri tegak di tengah arus perubahan dunia. Kunci utamanya, kata dia, terletak pada kemampuan Indonesia membangun struktur ekonomi berbasis nilai tambah dan kepentingan nasional yang tidak mudah terguncang oleh tekanan eksternal.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×